Energi Baru Terbarukan di Desa, Paradoks dalam Kepingan Harapan

Klikhijau.com – Energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan menggiurkan. EBT di sini merujuk pada sumber-sumber energi alternatif dan berkelanjutan (sustainabl...

Energi Baru Terbarukan di Desa, Paradoks dalam Kepingan Harapan
Bacakan Artikel

Sebelum kami memilih lokus liputan, kami juga memantau perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di beberapa kabupaten tetangga. Hasilnya mengejutkan, kebanyakan desa yang pernah menerapkan PLTMH mangkrak di tengah jalan.

Ada beberapa faktor yang menjadi kendala antara lain kerusakan alat hingga perawatannya yang tidak berjalan. Masalah pemeliharaan memang jadi kendala umum di berbagai tempat. Hal ini berkaitan dengan kelembagaan dan komitmen pengelola yang ada.

Fakta di lapangan menunjukkan, beberapa titik di pelosok yang awalnya memakai listrik PLTMH, beralih ke listrik PLN setelah jaringan listrik konvensional masuk.

Seperti diketahui, PLN sebagai perusahaan negara yang juga bertanggungjawab dalam memperluas jaringan hingga ke pelosok. Walhasil, begitu PLN masuk ke pelosok, masyarakat dengan mudah beralih dan mengakibatkan operasional PLTMH berhenti di tengah jalan.

Secara umum, kami menemukan bahwa kendala utama listrik terbarukan di pelosok adalah keberlanjutannya. Dalam konteks itu, diperlukan kolaborasi dan dukungan antara semua stakeholders, terutama masyarakat agar listrik terbarukan dapat berjalan baik dan berkelanjutan.

Harapan dari pelosok Sinjai Borong

Keberlanjutan listrik terbarukan di Dusun Balantieng, Desa Bonto Tengnga Sinjai tentu menarik. Dalam lima tahun terakhir, nyaris tidak ada kendala berarti secara teknis. Listrik dapat dinikmati selama 24 jam. Dusun pelosok yang dulu gelap gulita, kini terang benderang.

Ada dua hal menarik di sana. Pertama, tata kelola yang berjalan baik setidaknya tenaga operator di PLTMH Balantieng bekerja secara profesional dan bertanggungjawab meski harus menerima upah kecil dari pekerjaannya. Walhasil, setiap ada kerusakan atau masalah teknis dapat diselesaikan dengan baik.

Kedua, pembayaran yang terjangkau bagi warga. Seperti diketahui, untuk menikmati listrik dengan daya setara dengan 1300 watt, warga dusun hanya membayar Rp.25.000. tarif ini termasuk cukup terjangkau ketimbang tarif PLN.

Kini, jaringan PLN sudah mendekati dusun Balantieng. Namun, beberapa warga dusun yang ditanya, apakah akan beralih ke PLN, mereka sepakat konsisten menggunakan listrik PLTMH.

Alasannya, selain murah, mereka merasa sudah merasakan manfaatnya selama lima tahun dan tanpa kendala berarti. Hal lain adalah warga menyadari bahwa energi yang dirasakan adalah bagian dari potensi sumber daya alam yang terdekat di lingkungannya.

Ini satu kepingan harapan, betapa EBT sejatinya bisa dihidupkan asal ada komitmen dan kerjasama dalam menjaga keberlanjutannya!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2