Di Tetes Terakhir Kopiku

Oleh: Irhyl R Makkatutu hampir saja kita lupa pernah berkejaran di peluk sendiri. cari diri sendiri hingga asing kita juga lupa berkenalan. ujung jembatan mulai terlihat. "minumlah kopimu- lal...

Di Tetes Terakhir Kopiku
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Oleh: Irhyl R Makkatutu

hampir saja kita lupa pernah berkejaran di peluk sendiri.
cari diri sendiri hingga asing
kita juga lupa berkenalan. ujung jembatan mulai terlihat.

"minumlah kopimu- lalu baring di pelukku," bisikmu
aku merinding, pisah tersampir di senyum

kita terus berkejaran dalam rasa
ke belantara
ke bibir pantai
ke jalan raya penuh lubang
ke air mata

"aku ingin rebahkan bulan di pangkuanmu," bisikku
kamu merinding, denyutmu melambat-berhenti, dua hingga tiga detik
kuberikan napasku berbau rindu

di sebuah subuh kita berkejaran cukup jauh
aku sampai di pelabuhan
kepalaku berubah deru ombak
mengantar sampah ke tepian

kulihat orang bergelombang di jalan
berdesakan penuh amarah
kau sampai di bandara
kepalamu berubah deru pesawat-bising

debu-debu menutup matamu hingga tak melihatku
kota berubah pekat oleh polusi jelang pagi itu

kita pisah
saling cari
kejar waktu
rindu bara

subuh berikutnya segelas kopi tersaji di ruang makan, itu tanda kau telah kembali
barangkali kau datang ketika aku sedang di kamar mandi
membuang mikroplastik dari dari pakian yang kucuci

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2