Benarkah Akses Penduduk Perkotaan ke Ruang Hijau Semakin Berkurang?

Klikhijau.com – Manusia dan alam, dua hal yang sebenarnya tak bisa dipisahkan. Hanya saja, alam akan baik-baik saja tanpa manusia. Sedangkan manusia tidak akan bisa tanpa alam. Sumber kehidupan manusi...

Benarkah Akses Penduduk Perkotaan ke Ruang Hijau Semakin Berkurang?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Manusia dan alam, dua hal yang sebenarnya tak bisa dipisahkan. Hanya saja, alam akan baik-baik saja tanpa manusia. Sedangkan manusia tidak akan bisa tanpa alam. Sumber kehidupan manusia berasal dari alam.

Karenanya sudah seharusnya manusia tidak mengambil jarak dengan memunggungi alam. Manusia harus berenteraksi dan menyatu dengan alam, manusia harus bersahabat dengannya.

Saat ini ruang terbuka hijau, khususnya di daerah perkotaan semakin sempit. Populasi penghuni kota diproyeksi akan semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Perkembangan populasi yang menghuni daerah perkotaan akan membuat ukuran kota akan semakin bertambah. Itu artinya  ruang hijau, termasuk sisa kawasan alami, cagar alam , dan taman kota, akan semakin mendapat tekanan dari aktivitas manusia.

Tekanan tersebut akan membuat alam penting akan terusik. Padahal penting untuk melestarikan keanekaragaman hayati ekosistem dan menyediakan layanan seperti pengelolaan air hujan dan pengurangan panas.

Karena itu, ketika orang memanfaatkan ruang hijau, mereka dapat mempengaruhi fungsi tersebut, misalnya dengan mengganggu satwa liar dan membuat jalur baru yang kemudian mengalami erosi.

Sementara itu, lebih dekat dengan alam membawa banyak manfaat, di antaranya mengurangi stres, meningkatkan kesehatan mental, dan meningkatkan mood. Jadi, posisi ini menempatkan manusia pada buah simalakama yang serba salah.

Akses ke taman penting

Para peneliti dari University of Toronto dan Conservation Halton mengatakan bahwa  akses ke taman penting bagi penduduk kota untuk rekreasi, berhubungan dengan alam, dan sosialisasi, tetapi sulit untuk memahami bagaimana orang menggunakan ruang hijau ini.

Sementara itu jurnal Frontiers in Ecology and the Environment belum lama ini mempublikasikan hasil penelitian yang dipimpin Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati Integratif Jerman.

Para peneliti berangkat untuk memeriksa tren dalam hubungan manusia-alam dengan melakukan tinjauan sistematis. Mereka menemukan bahwa sangat sedikit bukti empiris yang tersedia untuk dipelajari.

“Penghancuran dan degradasi sistem alam yang sedang berlangsung, bersama dengan hilangnya keanekaragaman hayati. Sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia,” tulis para peneliti.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2