Bedah Buku Burung Endemik Sulawesi, Kisah Visual untuk Inspirasi Konservasi

Klikhijau.com - Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menggelar sejumlah kegiatan di Hotel Harper Makassar. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan mitranya: Fauna & Flora Indonesian Progr...

Bedah Buku Burung Endemik Sulawesi, Kisah Visual untuk Inspirasi Konservasi
Bacakan Artikel

Selain itu, ada sebelas cerita populer yang tersaji. Mendendangkan kisah perjumpaan penulis dengan si burung endemik di alam. Menjadi pembeda dengan buku sejenisnya.

Tulisan dalam buku ini seolah membawa pembaca berada di hutan belantara. Mengendap, bersembunyi, dan kamera betele panjang menjadi senjata. Nampaknya begitu seru.

Taufiq kemudian menutup presentasinya dengan menampilkan setiap lembar buku dengan video pendek berdurasi dua menit. Peserta kemudian bertepuk tangan di akhir presentasi.

Moderator kemudian menyilakan pembahas memberikan penilaian atas bukunya. Riza Marlon, Fotografer Satwa Liar sebagai Penanggap, kemudian memberi komentar. Ia hadir melalui Zoom Meeting. Jarak tak menghalangi hikmatnya prosesi bedah buku ini. Ada teknologi yang memudahkannya.

"Saya apresiasi tim penulis. Mereka telah mampu berkarya. Buku yang bagus adalah buku yang jadi. Saya juga salut sama mereka karena keterbatasan yang dimiliki, mereka mampu mengatasinya dengan berkolaborasi," ungkap Riza Marlon.

Tak cukup sampai di sana. Bang Caca, sapaan akrabnya terus memotivasi dan memberikan masukan atas buku satwa itu. Menjadi bahan perbaikan untuk penulisan buku berikutnya.

"Untuk penulisan buku burung atau satwa lain, kita butuh editor foto dan kurator foto. Editor foto bertugas mengatur rona warna desain terutama dalam proses cetak. Kurator foto sendri memiliki tugas untuk memilih foto yang layak masuk di buku," tambah Bang Caca.

Beberapa peserta kemudian mengajukan pertanyaan untuk mengkonfirmasi isi buku. Memberi masukan dan saran. Salah satu di antaranya menyarankan untuk mendaftarkan bukunya sebagai hak cipta.

"Salut sama tim penulis atas kegigihannya menulis buku burung ini. Saya sudah baca beberapa artikel. Saat membaca artikel tentang julang sulawesi, saya seolah terbawa pada suasana petualangan penulis. Seolah-olah saya berada di hutan sedang memotret si julang. Tulisan story telling-nya membangkitkan imajinasi saya," ujar Khalid, Anggota Balla Konservasi.

Begitulah buku, melalui untaian narasinya, mampu membawa pembaca menerawang. Menciptakan imajinasi yang berbeda pada setiap pembacanya. Menjadikannya melambat di tengah gempuran teknologi yang hasilkan informasi pendek yang massif dan instan.

Pada akhir sesi Yusuf Liling kemudian memberikan kesempatan kepada kepala balai taman nasional memberikan tanggapan atas bedah buku itu.

"Tugas saya sebenarnya sebagai provokator bagi teman-teman. Provokator dalam artian positif ya. Membangkitkan semangat teman-teman fungsional untuk menghasilkan karya inovatif, salah satunya melalui buku," ucap Heri Wibowo, Kepala Balai Taman Nasional.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2