Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Pohon Kenangan Ibu

Pohon Kenangan Ibu sebatang pohon penuh kunang-kunang tumbuh di mata dan kepala ibu akarnya menancap kokoh di hatinya daunnya hijau cemas di mataku berkali-kali ingin kupangkas tapi aku tak tega...

Oleh Idris Makkatutu 26 Jul 2020 11:31 2 menit baca
Pohon Kenangan Ibu
sebatang pohon penuh kunang-kunang tumbuh di mata dan kepala ibu akarnya menancap kokoh di hatinya daunnya hijau cemas di mataku berkali-kali ingin kupangkas tapi aku tak tega lihat air mata ibu meruah lara pohon itu menghadang gempuran terik matahari yang ingin mencuri sejuknya rumah daunnya hijau teduh “kisahku tertanam bersama pohon itu,” bisik ibu di antara lelapnya. aku temukan rindu mekar di matanya pada malam gigil kunang-kunang menari dan mata ibu berbinar cinta aku sedang menunggu hari baik pangkasi pohon itu atas restu ibu yang pelihara kenangannya kepada ayah [irp]  
Kencani Rindu
sepasang kunang-kunang sedang bercinta di kepalanya antarkan temui basahnya ingatan di mana hujan ingin tiadakannya ia benci derasnya hujan yang riuh membawa petaka pada sunyinya yang binar kabut turun selimuti matanya merampas cintanya yang baru beranjak hujan geledah seisi hatinya yang senak kopi hitam tanpa gula diseruput dengan pejam mata pahit itu hidup berubah gunung kehilangan pepohonan sungai kehilangan jernihnya napas dipenuhi polusi dan kunang-kunang serupa lampu hias kehilangan cahayanya di tepi ranjang bukitan rindu cemari sadarnya di malam gigil cekam kabut menari di jendela ketuki pintu rumah ia kehilangan keberanian di sebilah badik warisan di pucuk daun cengkeh rindu melayang membawa foto hitam putih ukuran pelukan ia merasa kembali muda namun, gunung telah kehilangan pepohonan seperti dirinya kehilangan kekasih. [irp]
Pamali Air Mata
aku telah lupa cara menangis bagaimana apakah dengan isak atau membenturkan kepala di kepalamu atau bibir kita saling mengecup membagi napas di mataku ada gelombang beku aku berubah kayu hanyut terbawa banjir laut berubah lagu sunyi penantian aku hilang pada bumiku sendiri di sebuah taman yang tak kuingin kamu datang dalam kebengisan aku sampirkan mimpiku di matamu kuceritakan kisahku di mata musim kau belai rambut kusutku entah kapan terakhir aku keramas gelombang menari di ubunku dan segala gulma memutik di kepala jika saja ada waktu, aku ingin jadi akar pohon di kebunmu menangis di dadamu lupakan segala pamali perihal air mata ------sungguh aku berubah pohon kehilangan akarnya kini---- [irp]
Topik terkait
#kunang-kunang #puisi lingkungan #pohon kenangan #ibu