Perihal Levitt yang Tiba Memberi Harapan Covid-19 Segera Berakhir

Klikhijau.com – Di tengah serbuan kepanikan dan kecemasan. Harapan-harapan positif perlu disebarkan. Sebab cemas dan panik, dua hal yang tentu berbahaya. Sekarang ini, jika boleh, saya ingin menyeb...

Perihal Levitt yang Tiba Memberi Harapan Covid-19 Segera Berakhir
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Di tengah serbuan kepanikan dan kecemasan. Harapan-harapan positif perlu disebarkan. Sebab cemas dan panik, dua hal yang tentu berbahaya.

Sekarang ini, jika boleh, saya ingin menyebutnya kita sedang mengalami kecemasan dan kepanikan massa. Namun, harapan tetap perlu dipegang erat.

Harapan yang diungkapkan oleh Michael Levitt, seorang pemenang Nobel dan ahli biofisika Stanford adalah obat yang tiba saat kita membutuhkannya.

Levitt, yang menerima Hadiah Nobel 2013 dalam bidang kimia untuk mengembangkan model kompleks sistem kimia, melihat titik balik yang serupa di negara-negara lain, bahkan mereka yang tidak menanamkan tindakan isolasi kejam seperti Cina.

Levitt mulai menganalisis jumlah kasus virus corona atau Covid-19 di seluruh dunia pada bulan Januari dan dengan tepat menghitung bahwa China akan melalui wabah Covid-19 terburuknya.

Menariknya hasil analisis Levitt terjadi jauh sebelum banyak pakar kesehatan memperkirakan hal tersebut.

Setelah China “sembuh” dari serangan Covid-19. Levitt memperkirakan hasil yang sama akan terjadi di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Ia menyebut seluruh dunia, maka tentu negara Indonesia masuk pula di dalamnya.

Namun, untuk mencapai hal itu, menurutnya ada langka yang harus diambil untuk mengendalikannya, yakni langkah jaga jarak sosial.

Mengendalikan kepanikan

"Yang kita butuhkan adalah mengendalikan kepanikan, dalam skema besar, kita akan baik-baik saja," ungkapnya.

Bagaimana Levitt bisa yakin jika kondisi sekarang ini akan berlalu dan baik-baik saja? Begini caranya, ia memperhatikan di Tiongkok, pada 31 Januari lalu, negara itu memiliki 46 kematian baru karena virus corona baru, dibandingkan dengan 42 kematian baru sehari sebelumnya.

Levitt menjelaskan, meskipun jumlah kematian setiap hari telah meningkat, tingkat kenaikan itu mulai mereda.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2