Perihal Ida Kembali ke Habitatnya dan Putri Singguluang Masuk Jebakan

Klikhijau.com – Konflik harimau dengan masyarakat memang kadang terjadi. Misalnya yang terjadi di Desa Kapa Seusak dan Desa Jambo Dalem, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Kejadiannya...

Perihal Ida Kembali ke Habitatnya dan Putri Singguluang Masuk Jebakan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

"Selama proses penyelamatan harimau sumatera Ida sampai dengan translokasi, tim tetap mengedepankan protokol keselamatan dan kesehatan Covid-19 mengingat kegiatan ini dilakukan dalam masa pandemik Covid-19," lanjut Agus.

Dan pada hari Sabtu, 20 Juni 2020, Ida resmi kembali ke habitatnya.  BKSDA Aceh  menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian habitatnya guna menghindari terjadinya konflik antara manusia dan harimau.

Putri Singguluang Juga Dievakuasi

Putri Singguluang adalah nama seekor anak harimau sumatera. Usianya masih muda, diperkirakan sekitar 1 tahun.

Putri masuk kandang jebak yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam [BKSDA] Sumatera Barat di ladang warga.

Lokasi kejadiannya  di Nagari Gantuang Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Sabtu, 13 Juni 2020.

Putri cukup ‘bebal’, ia abai saja ketika diusir, maka untuk menghindari konflik dengan masyarakat BKSDA terpaksa mengambil tindakan, yakni memasakang jebakan.

Apalagi Putri dilaporkan sering terlihat warga. Putri Singguluang merupakan nama yang diberikan kepada anak harimau sumatera tersebut. Ini  merujuk lokasi asalnya, Bukit Singguluang.

Putri kini sedang diobservasi di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya [PR-HSD] di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat [Sumbar].

Putri diduga terpisah dari induknya ketika berburu mangsa. Sebelumnya, tiga ekor harimau [diperkirakan induk dan dua anak] terlihat berulang kali masuk ladang warga, sejak 7 Mei 2020.

Dilansir dari Mongabay,  kemunculan harimau merupakan hal umum dan biasa terjadi di wilayah berdekatan hutan. Dari survei Tim Sintas dan BKSDA khususnya Sumatera Barat pada 2018-2019, masih banyak ditemukan individu harimau dan satwa lain.

“Hasil survei menunjukkan, populasinya cukup banyak, sehingga kecenderungan konflik memang tinggi bahkan sudah terjadi berkali. BKSDA Sumbar sudah familiar dan berpengalaman menanganinya,” ujar Hariyo T. Wibisono, praktisi konservasi harimau dari Yayasan Sintas Indonesia.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2