Perihal Burung Serak Jawa, Pengendali Hama Alami dan Berkelanjutan

Klikhijau.com - Burung Serak Jawa (Tyto alba)  dikenal sebagai predator alami hama pada ekosistem pertanian. Ia cukup mudah beradaptasi dengan keberadaan manusia. Hal terpantau dari kebiasaannya berum...

Perihal Burung Serak Jawa, Pengendali Hama Alami dan Berkelanjutan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Burung Serak Jawa (Tyto alba)  dikenal sebagai predator alami hama pada ekosistem pertanian. Ia cukup mudah beradaptasi dengan keberadaan manusia. Hal terpantau dari kebiasaannya berumah pada ruang kosong pada bangunan yang didirikan oleh manusia.

Keberadaan burung ini dapat membantu petani untuk membasmi hama, khususnya tikus sawah. Burung ini aktif di malam hari memburu tikus.

Kemampuan  alaminya dalam memangsa tikus di lahan pertanian sangat diperlukan sebagai kontrol populasi secara murah, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Hal menarik lainnya dari burung hantu ini adalah ia tersebar luas di Indonesia. Burung ini memiliki ciri khas wajah berbentuk hati dan bulu berwarna cokelat pucat.

Tyto alba termasuk salah satu cara pengendalian hama secara biologis yang mengacu pada prisip pengendalian hama terpadu (PHT). Dibandingkan dengan penggunaan bahan kimia, penggunaan burung hantu ini merupakan cara yang aman dan efektif untuk dilakukan.

Dengan ukuran tubuh relatif lebih besar, ia dapat beradaptasi dengan baik. Selain itu, ia mempunyai kemampuan visual yang luar biasa, pendengaran yang tajam, kemampuan terbang dengan senyap, dan mempunyai cakar dan paruh yang kuat.

Karenanya, penggunaan burung ini sebagai pengendali hama tikus cukup efektif. Seba seekor Tyto alba mampu memangsa tikus 2 – 5 ekor per hari. Selain itu,  karena merupakan predator alami, keberadaannya tidak mencemari lingkungan dan tidak membahayakan organisme lain.

Karenanya, apabila habitat burung ini terjaga, maka dapat jadi pengendali hama tikus berkelanjutan. Populasinya dapat dipertahankan secara alami. Burung ini dapat bertelur 2-3 kali setahun, sekali bertelur 5  hingga 8 butir.

Dengan memanfaatkan burung ini, maka  penggunaan  pestisida kimia dapat dikurangi, sehingga dapat pula menciptakan ekosistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Perlunya kesadaran

Agar populasi burung ini terjaga, maka perlu adanya kesadaran untuk menjaganya.  Perihal kesadaran tersebut, sobat hijau dapat mencontoh Waqifun, warga Dusun Bringin Lawang, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Jember.

Waqifun menemukan seekor Serak Jawa pada tanggal  27 Maret 2025 lalu di halaman rumahnya. Demi keselamatan satwa dan menghindari kemungkinan interaksi negatif dengan manusia, ia segera menghubungi pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur  melalui layanan Call Center. Tim Matawali RKW 14 segera merespons laporan tersebut dengan melakukan evakuasi ke kandang transit untuk memastikan kondisi satwa dalam keadaan baik.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2