Perang Narasi di Balik Banjir Berulang dan Pentingnya Data Lingkungan

Klikhijau.com - Benarkah ada sengkarut tata ruang di balik fenomena banjir yang berulang setiap tahun di beberapa wilayah di Indonesia? Pertanyaan ini mengemuka pada diskusi virtual yang digelar Thamr...

Perang Narasi di Balik Banjir Berulang dan Pentingnya Data Lingkungan
Bacakan Artikel

Seperti disimak di pemberitaan media dan sosial media, ada diskursus yang mewacana bahwa banjir yang terjadi Kalsel erat kaitannya dengan deforestasi akut yang terjadi dalam 10 tahun terakhir. Namun, diskursus ini kemudian dinegasikan oleh pernyataan Presiden Joko Widodo mengatakan (juga dikutip media) bahwa penyebab banjir Kalsel adalah curah hujan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), lalu menegaskan bahwa banjir di Kalsel adalah faktor anomali cuaca.

''Penyebab utamanya terjadi anomali cuaca dengan curah hujan sangat tinggi. Selama lima hari dari tanggal 9-13 Januari 2021, terjadi peningkatan 8-9 kali lipat curah hujan dari biasanya. Air yang masuk ke sungai Barito sebanyak 2,08 miliar m3, sementara kapasitas sungai kondisi normal hanya 238 juta m3,'' ungkap Karliansyah, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL)ย KLHK.

Perlunya melihat akar masalah secara utuh

Benarkah banjir yang berulang di Indonesia ada kaitannya dengan tutupan lahan? Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia, Soeltan Gussetya Nanggara, tak menampik hal ini.

โ€œPerihal kondisi hutan, tanpa melihat angkanya pun, sebetulnya kita bisa mengindikasikan bahwa hutan kita semakin berkurang. Dan semakin banyak yang rusak,โ€ kata Soelthan.

[irp]

Hal menarik untuk disimak kata Soelthan adalah ada klaim deforestasi yang turun, tetapi kita tidak pernah mencermati pada hutannya itu sendiri tetap berkurang.

โ€œIni juga kan menjadi salah satu penyebab banjir juga, walaupun secara umum penyebab banjir tentu sangat kompleks,โ€ kata Soelthan.

Sepertinya kita agak kurang informasi pada setiap kejadian banjir yang terjadi. Hal ini yang membuat setiap ada satu faktor yang berpengaruh tinggi itu diklam.

Padahal, kata Soelthan itu tidaklah utuh sebab ada faktor-faktor lain yang seharusnya bisa dilihat. Termasuk mengenai problem akumulasi kerusakan hutan yang terjadi sekian lama.

Masalah lainnya kata Soelthan adalah kita tidak punya semacam pemodelan banjir yang membuat kita selalu gagap merespons masalah banjir yang terjadi. Ia menyarankan pentingnya melihat akar masalah banjir secara kompleks baik dari sisi tata ruang, HGU dan lainnya.

โ€œJadi nggak cuma menyalahkan iklim atau cuaca ekstrim, begitu,โ€ jelas Soeltan.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: