Pantai yang Bersalin Nama

Anak-anak berhamburan ketika lelaki itu datang. Meninggalkan mainannya di Turungan Ara. Lelaki itu datang tak sendiri. Ia bersama empat temannya. Semuanya menenteng  senjata. Berseragam tentara pula....

Pantai yang Bersalin Nama
Bacakan Artikel

Anak-anak berhamburan ketika lelaki itu datang. Meninggalkan mainannya di Turungan Ara. Lelaki itu datang tak sendiri. Ia bersama empat temannya. Semuanya menenteng  senjata. Berseragam tentara pula.

Wajah mereka tak terlalu ramah. Senyum seperti telah lama menghilang dari wajah mereka. Sorot mata mereka tajam. Penuh curiga dan waspada.

“Di mana rumah panrita lopi?” tanya lelaki itu. Suaranya berat. Terasa mengintimidasi.

“Itu, Pak?” jawabku sambil menunjuk rumah Puang Lahamu. Suaraku terdengar bergetar dan lututku gemetaran.

[irp]

Aku tak pernah segemetar itu seumur hidupku. Bahkan saat berhadapan dengan badai laut yang garang. Karena aku selalu tahu, laut tak akan menelanku hidup-hidup.

Aku hanya akan gemetaran bila bertemu dengan Sukahati. Perempuan tercantik di kampungku, Ara—yang tak lama lagi akan jadi istriku.

Aku dan Sukahati masih memiliki pertalian keluarga. Sangat lumrah menikah dengan keluarga sendiri.  Dunia luar masih sangat tertutup saat itu. Tahun 1962.

Meski kami masih keluarga dan saling menyukai. Namun, adat istiadat tetap jadi lubang hitam yang nganga. Sangat dalam.

Sebagai pelaut dengan penghasilan tak seberapa. Keluargaku sulit menjangkau uang panai yang ditetapkan keluarga Sukahati, 75 ribu rupiah.

Uang 75 ribu rupiah bukan jumlah sedikit. Jalan rumah tangga bersama Sukahati rasanya akan tertutup. Apalagi ada Rahiming, saingan beratku untuk mendapatkan Sukahati.

[irp]

Rahiming, adalah anak Puang Lahamu, sang panrita lopi. Ayah Rahiminglah yang dicari lelaki berseragam dan menenteng senjata itu.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: