Mewaspadai Ancaman Terhadap Ekosistem dan Bencana Ekologis dari Kali Song dan Sungai Ngrowo

Klikhijau.com - Dalam upaya menjaga kelestarian sungai dan kesehatan masyarakat, Aliansi Lereng Wilis (ALWI), Ecoton, PPLH Mangkubumi dan mahasiswa Tulungagung melakukan pengujian kualitas air di dua...

Mewaspadai Ancaman Terhadap Ekosistem dan Bencana Ekologis dari  Kali Song dan Sungai Ngrowo
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Dalam upaya menjaga kelestarian sungai dan kesehatan masyarakat, Aliansi Lereng Wilis (ALWI), Ecoton, PPLH Mangkubumi dan mahasiswa Tulungagung melakukan pengujian kualitas air di dua sungai utama, yaitu Sungai Ngrowo dan Kali Song.

Hasil pengujian ini mengungkapkan kondisi yang mengkhawatirkan dan memerlukan tindakan segera.

Pengujian kualitas air sungai melibatkan 50 orang dari akademisi, praktisi, dan pegiat lingkungan di Kabupaten Tulungagung, pengujian kualitas air di Sungai Ngrowo dilakukan di DAM Majan, dan Taman Gendang.

Setelah itu, dilanjutkan di Kali Song tepatnya di daerah Kauman pada dua titik, di area pemukiman dan di outlet pembuangan pabrik gula.

[irp]

“Uji kualitas air ini bertujuan untuk mengetahui kesehatan sungai, dan adanya laporan dari warga bahwa air sungai mengeluarkan bau tidak sedap bahkan sampai berwarna keputihan. Hasil uji kualitas air ternyata sangat mengejutkan sehingga ada indikasi pencemaran yang ancam bencana ekologis” ujar Agus Suprianto, koordinator kegiatan uji kualitas air ALWI Tulungagung.

Sungai Ngrowo: Tingginya Kadar Fosfat dan Rendahnya Oksigen Terlarut dalam Air

Pengujian kualitas air di Sungai Ngrowo menunjukkan kadar fosfat yang sangat tinggi dengan hasil 6,6 mg/L dan rendahnya oksigen terlarut dalam air -0,3 mg/L, nilai jauh melebihi batas aman yang ditetapkan sesuai baku mutu PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada lampiran vi bahwasanya kadar fosfat di sungai untuk peruntukan kelas dua untuk pembudidayaan air tawar, sarana prasarana, peternakan dan irigasi atau peruntukan lain, yaitu 0,2 mg/L dan oksigen terlarut dalam air 4 mg/L.

Peneliti Ecoton, Alaika Rahmatullah menjelaskan bahwasa fosfat yang berlebihan ini berpotensi menyebabkan ledakan pertumbuhan alga (eutrofikasi) yang dapat menguras oksigen terlarut dalam air.

Hasil pengujian ini membuktikan tingkat oksigen terlarut dalam air sangat rendah mengancam kelangsungan hidup organisme air seperti ikan yang sensitif terhadap perubahan oksigen akan mengalami stress bahkan menyebabkan kematian, dampak jangka panjangnya adalah kepunahan ikan.

[irp]

Kali Song: Suhu Air yang Memanas Hingga 44 Derajat Celsius

Di Kali Song, hasil pengujian menunjukkan suhu air yang mencapai 44 derajat Celsius. Hal ini menjadi dugaan akibat dari buangan limbah cair Pabrik Gula yang mengalir di Kali Song. Suhu yang ekstrem ini menciptakan kondisi yang tidak layak bagi kehidupan akuatik, dan memicu ancaman bencana ekologis. Panas yang berlebihan menyebabkan stres termal pada ikan dan organisme air lainnya, meningkatkan risiko kematian massal dan potensi kepunahan spesies tertentu.

“Keanekaragaman hayati akan berkurang jika suhu sungai ini lebih hangat, dapat mengubah struktur ekosistem sungai, spesies yang tidak dapat beradaptasi dengan suhu yang lebih tinggi dapat berkurang atau punah” ungkap Amel mahasiswa Biologi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2