Menyemai Harapan dari Pesisir Lae-Lae, Mahasiswa dan Anak Pulau Merawat Ruang Hidup

Menyemai Harapan dari Pesisir Lae-Lae, Mahasiswa dan Anak Pulau Merawat Ruang Hidup
Menyemai Harapan dari Pesisir Lae-Lae, Mahasiswa dan Anak Pulau Merawat Ruang Hidup. - Foto: Ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Angin laut menyapu pelan pesisir Pulau Lae-Lae, membawa aroma khas garam yang beradu dengan riak gelombang Selat Makassar. Di pulau kecil yang jaraknya hanya sejengkal dermaga dari pusat Kota Makassar ini, riuh tawa anak-anak berseragam sekolah terdengar riang. Langkah-langkah kecil mereka menyusuri sudut-sudut pulau, tidak sekadar melintas, melainkan membungkuk Jemari mereka yang terbungkus sarung tangan dengan cermat memunguti lembaran plastik, botol bekas, dan sisa kemasan yang tersangkut di antara pasir pesisir.

Keriuhan itu menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat bertajuk BASIS (Belajar Atasi Sampah Bersama Siswa) yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) FISIP Universitas Hasanuddin pada 5 hingga 7 Agustus 2026. Berpusat di SMPN 41 Satu Atap Makassar, aksi ini hadir bukan sekadar gerakan pembersihan sesaat, melainkan ruang perjumpaan edukatif untuk menanamkan kesadaran ekologis sejak dini di wilayah pesisir.

standard Pulau Lae-Lae, sebagaimana pulau-pulau kecil lainnya di kawasan kepulauan Spermonde, berada pada posisi yang rentan secara ekologis. Pesisirnya kerap menjadi muara akhir bagi sampah domestik warga setempat sekaligus sampah kiriman yang terbawa arus laut.

Mengurai masalah limbah di kawasan seperti ini membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, gabungan antara pemahaman sosial, budaya lokal, serta perubahan perilaku yang konsisten.

Di dalam ruang kelas, suasana belajar dikemas secara interaktif. Para mahasiswa membagikan pemahaman mendasar mengenai klasifikasi sampah, dampak akumulasi plastik terhadap rantai makanan laut, hingga prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R). Edukasi teknis ini dituturkan lewat cara-cara yang membumi, memantik imajinasi anak-anak pulau agar mampu melihat sampah bukan lagi sebagai beban lingkungan semata, melainkan material yang masih memiliki peluang untuk diolah kembali secara kreatif.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: