Menyaksikan Ibu Menyulap Songkolo Menjadi Baje'

Menyaksikan Ibu Menyulap Songkolo Menjadi  Baje'
Baje' dari songkolo (nasi dari beras ketan)- foto/Ist
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Setelah selesai dikukus, Ibu membiarkannya saja hingga suhu panasnya berkurang dan menyisa rasa hangat saja.

Selanjutnya, Ibu menyiapkan kelapa—memarutnya. Untuk takarannya, Ibu tak menggunakan takaran berapa gram kelapa parut yang digunakan. Dibiarkannya pengalaman yang berbicara.

Setelah kelapa parut selesai, Ibu mengambil gula aren (gula merah). Gula itu kemudian dikoro (diiris tipis-tipis) tujuannya agar saat dilelehkan atau dicairkan proses akan lebih cepat.

Berapa takaran gula merah yang digunakan, pun tak dihitung. Hanya diperkirakan saja berdasarkan pengalaman membuat baje yang entah keberapa ratus kalinya.

Langkah selanjutnya yang disiapkan ibu adalah pammaja’ (wajan) lalu menyalakan kompor. Dulu sebelum kompor gas hadir di dapur rumah, Ibu membuat baje’  menggunakan api dari kayu bakar. Baje’ yang dimasak dari tungku menggunakan kayu bakar. Rasanya lebih enak.

Sebelum menyalakan kompor, Ibu meletakkan wajannya terlebih dahulu di atasnya, lalu menuanginya sedikit air—lagi takaran airnya tak dihitung. Setelahnya, gula merah yang telah dikoro’ dimasukkan ke dalam wajan. Dibiarkan mencair sambil digaru (aduk).

Begitu gula merahnya mencair, Ibu memasukkan kelapa parut yang telah disiapkan. Mengaduknya hingga menyatu dengan gula merah. Dan terakhir, Ibu memasukkan songkolo.

Setelah keempat bahan itu bertemu di atas wajan, maka saatnyalah mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengaduknya agar bahan-bahan itu menyatu dengan mesra—tak terpisahkan oleh apa pun.

Ibu terus mengaduknya hingga mengental, lagi tak ada takaran waktu berapa lama harus diaduk. Semuanya dilakukan berdasarkan pengalaman.

Setelah semuanya menyatu dengan rata dan mengental, Ibu kemudian mematikan kompornya. Itu tandanya baje’ telah masak dan siap dica’ma-ca’ma (dimakan).

Satu lagi catatannya, Ibu membuatnya dengan menggunakan api sedang. Tak terlalu besar, pun tak terlalu kecil.

Dan setelah agak dingin, saya mengambil baje’ itu. Mencobanya. Rasanya bikin nagih. Ibu membuatkan dengan penuh rasa cinta yang dipersembahkan kepada Ayah, juga pada anak dan cucunya.

Sobat hijau,  baje’ telah menjadi kuliner yang tak terpisahkan dari spiritualitas masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya di Desa Kindang, Bulukumba. Kuliner ini wajib ada saat acara a’baca-baca  “ritual” khususnya syukuran.

Banyak makna filosofis yang dikandungnya, dan tentu semua makna ini bernilai positif untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk pesan bijak, jangan membuang makanan yang masih layak dikonsumsi atau diolah menjadi makanan dengan wajah lain, semisal songkolo menjadi baje’.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi