Menilik Ketimpangan Gender pada Aktivitas Ramah Lingkungan Sehari-hari

Klikhijau.com – Bagaimana ketimpangan gender pada aktivitas ramah lingkungan sehari-hari? Mari kita lihat faktanya dalam keseharian… Dari sabun, alat makan, tas dan aneka rupa barang zero waste dip...

Menilik Ketimpangan Gender pada Aktivitas Ramah Lingkungan Sehari-hari
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Bagaimana ketimpangan gender pada aktivitas ramah lingkungan sehari-hari? Mari kita lihat faktanya dalam keseharian…

Dari sabun, alat makan, tas dan aneka rupa barang zero waste dipasarkan dan dibeli oleh perempuan. Mungkin itu sebab, perempuan dipandang sebagai penyelamat bumi. Apakah ini membuat laki-laki enggan mengambil tanggung jawab pada bumi?

Kejadian yang kerap kita jumpai di keseharian, jika ingin mengurangi dampak dari pilihan konsumen terhadap lingkungan, satu-satunya pilihan adalah menggunakan tas belanja sendiri.

Belakangan ini, pembelanja berwawasan lingkungan dipenuhi dengan pilihan "hijau". Dengan munculnya pembalut yang dapat digunakan kembali (menstrual cup), menstruasi  sekarang bisa bebas plastik.

Kosmetik semakin banyak datang dalam wadah kaca dan aluminium. Bahkan merek kaus kaki menggunakan kain dari bahan yang lebih ramah lingkungan.

Hal ini mengingat krisis planet ini yang semakin menjadi-jadi akibat dari pola konsumsi manusia. Kita mungkin menemukan dorongan nyata ini menuju keberlanjutan dimulai dari perubahan diri sendiri hingga rak-rak supermarket yang turut menggaungkannya.

Ketimpangan gender pada produk

Tanpa disadari sebagian besar produk ramah lingkungan dipasarkan untuk perempuan.

Ada alasan yang jelas (dan menyedihkan) untuk hal ini: perempuan bukan hanya konsumen yang lebih kuat, tetapi juga masih bertanggung jawab secara tidak proporsional terhadap ranah domestik. Hal ini disebut Mintel sebagai “kesenjangan gender”.

Dalam laporan 2018 oleh Mintel tentang masalah ini, Jack Duckett, seorang analis gaya hidup konsumen, mengatakan perempuan masih cenderung bertanggung jawab atas penyelenggaraan rumah tangga, berkutat dengan cucian, bersih-bersih rumah, dan aktivitas domestik lainnya.

Tetapi ternyata dengan kampanye ramah lingkungan dan klaim produk sebagian besar ditujukan untuk audiens perempuan, pengiklan berisiko mengomunikasikan pesan bahwa keberlanjutan adalah pekerjaan perempuan.

Idenya sudah berbahaya karena penggambaran terus-menerus perempuan sebagai ‘pengasuh’ planet ini.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2