Menebar Pesan Menohok Botchan kepada Para Pemburu Satwa Liar

Klikhijau.com –  Pesan kebaikan sesungguhnya bisa ditemukan di mana saja. Termasuk dalam karya  sastra. Karena sifat sastra sendiri adalah penyampai pesan kepada pembaca. Sastra juga merupakan potret...

Menebar Pesan Menohok Botchan kepada Para Pemburu Satwa Liar
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com –  Pesan kebaikan sesungguhnya bisa ditemukan di mana saja. Termasuk dalam karya  sastra. Karena sifat sastra sendiri adalah penyampai pesan kepada pembaca. Sastra juga merupakan potret suatu masyarakat.

Salah satu jenis sastra yang banyak memuat pesan moral adalah novel. Semisal novel Botchan, yang merupakan novel kedua Natsume Soseki.

Novel ini terbit pertama kali pada tahun 1906. Menjadi salah satu novel paling populer di Jepang. Dibaca oleh banyak orang. Novel ini mengangkat tema utama tentang moralitas.

Natsume Soseki yang lebih dikenal dengan nama pena Soseki lahir pada tahun 1867. Ia menulis novel Botchan dengan cara  humor dan sarkasme. Ia hidup di zaman Meiji hingga zaman Taisho. Soseki  adalah salah satu penulis besar Jepang.

Botchan menjadi sarana bagi Soseki  untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Ia memunculkan nilai-nilai moralitas dalam karyanya.

Susahnya kejujuran

Botchan, mempresentasikan kehidupan nyata manusia. Di mana yang jujur akan sulit berkembang. Akan memiliki “musuh” di mana-mana. Dan juga kenyamanan hidupnya akan selalu terombang ambing.

Orang tua  Botchan menganggapnya sebagai anak berandalan tanpa masa depan. Ibu dan ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Dan ia harus mengjalani hidupnya dengan gelar yatim piatu.

Tapi ia tidak putus asa. Terus saja bergerak hingga lulus kuliah dan menjadi guru. Namun, kehidupannya tidak lepas dari masalah. Karena Botchan adalah seorang guru muda yang melakukan pemberontakan terhadap “sistem” di sekolah tempatnya mengajar.

Sifatnya yang  selalu terus terang dan tidak mau berpura-pura—termasuk dalam hal memancing ikan. Sering kali membuatnya mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang sekitarnya.

Novel ini banyak diteliti oleh mahasiswa Indonesia, di antaranya Shabrina Alifah Ghaisani yang mengangkat judul Kepribadian Tokoh Utama Botchan dalam Novel Botchan Karya Natsume Soseki (Kajian Psikoanalisis). Shabrina merupakan mahasiswa Program Studi S1 Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Semarang

Penelitian lain dilakukan dilakukan oleh Aini Vatul Hidayah, Budi Santoso dari Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Dian Nuswantoro. Mereka mengangkat judul Penerapan Nilai-Nilai Moral oleh Botchan dalam Novel Botchan Karya Natsume Soseki.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2