Mendengar Pertanyaan Kahlil Gibran tentang Alam dan Manusia
Klikhijau.com – Kahlil Gibran menulis puisi seperti sedang sarapan pagi. Puisi-puisinya mengalir dengan segar dan jernih. Lelaki kelahiran 6 Januari 1883 di Lebanon itu, memiliki ciri khas dalam...
Alam dan Manusia
Aku mendengar anak sungai merintih bagai seorang janda yang menangis meratapi kematian anaknya dan aku kemudian bertanya, "Mengapa engkau menangis, sungaiku yang jernih?" Dan sungai itu menjawab, "Sebab aku dipaksa mengalir ke kota tempat Manusia merendahkan dan mensia-siakan diriku dan menjadikanku minuman-minuman keras dan mereka memperalatkanku bagai pembersih sampah, meracuni kemurnianku dan mengubah sifat-sifatku yang baik menjadi sifat-sifat buruk." Dan aku mendengar burung-burung menangis, dan aku bertanya, "Mengapa engkau menangis, burung-burungku yang cantik?" Dan salah satu dari burung itu terbang mendekatiku, dan hinggap dihujung sebuah cabang pohon dan berkata, "Anak-anak Adam akan segera datang di ladang ini dengan membawa senjata-senjata pembunuh dan menyerang kami seolah-olah kami adalah musuhnya. Kami sekarang terpisah di antara satu sama yang lain, sebab kami tidak tahu siapa diantara kami yang bisa selamat dari kejahatan Manusia. Ajal memburu kami ke mana pun kami pergi. "Kini, matahari terbit dari balik puncak pergunungan, dan menyinari puncak-puncak pepohonan dengan rona mahkota. Kupandangi keindahan ini dan aku bertanya kepada diriku sendiri, "Mengapa Manusia mesti menghancurkan segala karya yang telah diciptakan oleh alam?"
[irp]
Tiga Pertanyaan Gibran
Puisi di atas memuat tiga pertanyaan yang penting untuk diurai. Kahlil Gibran menelurkan pertanyaan untuk kita renungkan.
Cobalah simak pertanyaan pertama, "Mengapa engkau menangis, sungaiku yang jernih?" Pertanyaan itu ditujukan kepada sungai yang jernih. Kahlil Gibran memang ahli membuat sesuatu di luar manusia seolah mampu bicara—menelurkan keresahannya. Pada saat puisi itu di tulis, sangat mungkin Kahlil Gibran belum melihat sungai yang tercemar berwarna hitam dan berbau—jauh dari sifatnya yang jernih. Jika saja ia hidup di zaman sekarang, di mana banyak sungai tercemar, mungkin pertanyaannya bukan ditujukan kepada sungai yang jernih, tapi sungai yang tercemar. Sungai dalam puisi tersebut mengalami kegalauan karena tidak dihargai oleh manusia, dijadikan minuman keras dan pembersih sampah. Namun saat ini, sungai bukan hanya membersihkan sampah, tapi jadi timbunan sampah. Di Indonesia, kita bisa melihat sungai-sungai yang dipenuhi sampah, terutama sungai yang ada di daerah perkotaan atau yang padat penduduk. Pertanyaan kedua adalah tentang satwa, bacalah kata-kata ini, "Mengapa engkau menangis, burung-burungku yang cantik?" Burung, merupakan satwa yang banyak diburu, dibunuh, dan diperjual belikan. Mereka dibiarkan terpisah dari keluarganya oleh manusia. Sebagian manusia “sepertinya” lahir untuk merusak alam, merampas hak burung-burung. Membabat habis habitatnya. Pertanyaan itu, mendapat jawaban dari sang burung. Anak-anak Adam akan segera datang/di ladang ini dengan membawa senjata-senjata/pembunuh dan menyerang kami/seolah-olah kami adalah musuhnya/Kami sekarang terpisah di antara satu sama yang lain/sebab kami tidak tahu siapa/diantara kami yang bisa selamat dari kejahatan manusia. Mendengar jawaban dari sang burung pada puisi di atas, melahirkan perasaan sedih yang dalam. Kita bisa merasakan penderitaan burung-burung itu karena ulah manusia. Saat ini, banyak burung terancam punah, dan kita akan kehilangan burung-burung yang cantik itu. Pertanyaan ketiga, "Mengapa Manusia mesti menghancurkan segala karya yang telah diciptakan oleh alam?" Gibran tidak memberi jawaba pada pertanyaan ini. Jawabannya bisa sangat beragam, tergantung pada manusianya. Meski banyak yang akan menjawab demi kesejahteraan, demi kebahagian, dan demi generasi mendatang, maka alam pun dirusak. Hutan dibongkar untuk lahan pertanian dan lain sebagainya. Namun, warisan paling baik untuk generasi selanjutnya adalah alam yang hijau, lestari dan membuat udara segar, air sungai tidak tercemar, dan burung-burung yang bebas terbang dan menikmati hidupnya di alam bebas. Tak ada kebahagian, kedamaian, kesejehateraan jika alam mulai rusak. Karena ia membawa ancaman yang maha dahsyat. Pertanyaan terakhir dari Kahlil Gibran itu, patut direnungkan untuk menemukan jawabannya yang bisa menyelamatkan alam dari kerusakan. [irp]