Mencicipi Eksotisme Puisi-Puisi Pablo Neruda yang Bernuansa Alam

oleh -123 kali dilihat
Pablo Neruda
Mencicipi Eksotisme Puisi-Puisi Pablo Neruda yang Bernuansa Alam-foto/jackewilson.com/

Klikhijau.com – Tak hanya makanan yang bisa dicicipi, tapi juga puisi. Kekuatan puisi terletak pada pilihan katanya. Pemilihan kata (diksi) yang tepat pada puisi akan memberi sensasi tersendiri.

Tak ada puisi tanpa kata, dan kata-kata bernuansa  alam banyak digunakan penyair dalam puisinya. Misalnya kata pohon, daun, ombak, angin dan lain sebagainya.

Penggunaan kata bernuansa alam juga bisa ditemukan pada puisi-puisi Pablo Neruda. Pada beberapa puisinya, lelaki bernama asli Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto itu, banyak menyisipkan diksi-diksi tentang alam yang membuat puisinya terasa lebih menyentuh.

Neruda yang meninggal pada usia 69 tahun. Ia lahir  pada 12 Juli 1904  dan  meninggal dunia 23 September 1973 lahir  di Parral, kota yang  berjarak sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili.

KLIK INI:  7 Novel Indonesia yang Memakai Metafora Alam sebagai Judul

Namun, meski lahir di Chili, Neruda lebih dikenal sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20.

Namun, hal berbeda diungkapkan oleh Gabriel García Márquez seorang novelis asal Kolombia, ia menyebut  Neruda sebagai penyair terbesar apa abad ke-20 dalam bahasa apapun.

Puisi-puisi Neruda hingga kini masih terus diapresiasi dan menginspirasi, tak lekang oleh waktu. Neruda banyak menulis puisi-puisi erotik, romantis, surealis, epos sejarah, dan puisi-puisi tentang politik, dan juga tentang alam dan laut.

Di antara banyak puisi yang ditulisnya, hampir semuanya akan ada sisipan diksi-diksi alam di dalamnya, di antaranya:

 

Tersesat di Hutan

Tersesat du hutan, kupatahkan reranting gelap dahan
yang meruapkan bisikan-bisikan di bibirku yang dahaga
mungkin itu suara tangisan hujan
pecah genta atau hati yang terajam kelam

Sesuatu yang terindera berasal dari langkah yang jauh
dalam dan rahasia, tersembunyi di dalam bumi
seperti teriakan yang teredam oleh gunungan musim gugur
oleh lembab dan kibas setengah terbuka kegelapan dedaun
terbangun dari mimpi hutan disana, kabut
bernyanyi di bawah lidahku, menghanyut wewangian
meruyap naik di alam bawah sadarku

Saat telah kutinggalkan di belakang, tiba-tiba akar-akar
menangis padaku, tanah yang telah hilang bersama masa kanak-kanakku
dan aku berhenti, terluka oleh harum pengembaraan

KLIK INI:  Meresapi 6 Puisi Taufiq Ismail yang Beraroma Alam
Planet

Adakah batu-batu air di bulan?
Adakah cairan emas?
Apakah warna musim gugur?
Adakah hari-hari berlarian dari yang satu ke yang lainnya
hingga seperti seikat rambut
mereka terurai? Berapa banyak yang jatuh
–kertas-kertas, anggur, tangan-tangan, mayat-mayat–
dari bumi ke tempat yang jauh itu?

Di sanakah kehidupan terbenam?

 

Burung

Ia dilewati dari satu burung ke burung lainnya
seluruh anugerah hari,
yang beranjak dari galur ke galur sepanjang hari,
yang bersembunyi di antara tumbuhan
dalam terbang yang membuka sebuah lorong,
di mana angin akan melintasi
tempat burung-burung tengah memecahkan
udara yang beku dan biru:
ke sanalah masuknya malam.

Kembali dari begitu banyak perjalanan,
aku tergantung dan hijau
antara matahari dan geografi:
aku melihat bagaimana sayap-sayap bekerja,
bagaimana wewangian diteruskan
oleh telegraf bersayap
dan dari atas aku melihat sebuah jalan,
musim-musim semi dan atap-atap,
para nelayan di pelelangan,
pantalon-pantalon buih,
melihat semuanya dari langit hijauku.
Aku tak punya lebih banyak abjad
dari walet-walet dalam kawanannya,
sepercik air jernih
dari seekor burung di atas api
yang menari di luar serbuk sari

KLIK INI:  Segelas Kopi Pertemuan
Samudera

Tubuh lebih sempurna ketimbang gelombang,
garam membasuh barisan laut,
dan burung yang berkilau
terbang tanpa sisa tanah.

 

Laut

Sebuah entitas, tetapi bukan darah.
Sebuah pelukan, kematian atau mawar.
Masuklah laut dan mempertemukan hidup kita
dan menyerbu sendirian dan menebarkan tubuhnya dan bernyanyi
pada malam-malam dan hari-hari dan para lelaki dan makhluk-makhluk hidup.
Hakekatnya: api dan dingin: pergesaran.

 

Air

Segala yang ada di atas bumi tegak, semak
menusuk dan kehijauannya
menggigit, kelopaknya luruh, berjatuhan
hingga satu-satunya bunga menjadi kejatuhan itu sendiri.
Air adalah hal lain,
tak memiliki petunjuk arah tetapi kejernihan geraknya sendiri,
menembus semua warna mimpi,
pelajaran-pelajaran yang jernih
dari batu
dan di dalam kerja besar itu
adalah cita-cita buih yang tak tercapai.

Nah, itulah beberapa puisi Pablo Neruda tentang alam atau bernuansa alam. Selamat mencicipi dan semoga memberi manfaat kepada sahabat hijau

KLIK INI:  Tanah Air Mata

Sumber: rusydifirdaus.wordpress.com dan sastra-indonesia.com