Mencemaskan, Sungai Jeneberang Tercemar Mikroplastik

oleh -119 kali dilihat
Ngeri, Tubuh Manusia pun Mulai Didiami Mikroplastik
Ilustrasi mikroplastik/foto-IDNtimes
Andi Ayatullah

Klikhijau.com – Sungai Jeneberang ditemukan telah  terkontaminasi mikroplastik. Klaim itu berdasarkan temuan Komunitas Pemerhati Sungai Jeneberang dan Tim Ekspedisi Sungai Nusantara.

Pada Sabtu 1 Oktober 2022 lalu, mereka melakukan penelitian kualitas air sungai Jeneberang di Kelurahan Parangtambung, Kecamatan Tamalate, Makassar. Tepatnya di dermaga Daeng Tata, juga di bawah Jembatan Kembar Kabupaten Gowa dan Sungai Tallo di Kawasan Kerabat Kera-Kera. Hasilnya menunjukkan bahwa sungai Jeneberang telah mengandung mikroplastik.

“Sungai Jeneberang terlihat kotor dan dipenuhi sampah dan plastik. Malah kami menemukan ada WC umum salurannya langsung dibuang ke sungai tanpa diolah. Sampah plastik banyak ditemukan ditepi sungai, sedih melihat sungai yang digunakan sebagai bahan baku air minum dijadikan tempat sampah dan buangan limbah,” ungkap Ahmad Miftah, Koordinator Komunitas Pemerhati Sungai Jeneberang.

Sedangkan menurut Chusnul Khatimah, Peneliti Komunitas Pemerhati Sungai Jeneberang mengatakan, kandungan kadar khlorin dan phospat  sungai Jeneberang di atas baku mutu menurut PP 22/2021.

KLIK INI:  Manusia Berkewajiban Menegakkan Keadilan Iklim

“Di jembatan kembar Kota Gowa khlorinnya 0.09 ppm padahal baku mutu di PP 22/2021. Tidak boleh lebih dari 0.03 ppm pencemaran khlorin ini berasal dari aktivitas pertanian dan limbah cair domestic. Jika ingin mengendalikan pencemaran air sungai pemerintah harus membangun instalasi pengolah air limbah domestik,” tuturnya.

Dalam penelitian itu juga terungkap, jika dalam 100 liter air sungai Jeneberang, terdapat rata-rata 169 partikel mikroplastik

“Penelitian Komunitas Pemerhati Sungai Jeneberang menemukan bahwa sungai Jeneberang telah terkontaminasi mikroplastik dengan rata-rata 169 partikel mikroplastik dalam 100 liter air sungai. Sedangkan jenis mikroplastik yang mendominasi adalah jenis fiber atau benang sebesar 74% disusul jenis fragmen atau cuilan plastik sebesar 14% sedangkan jenis filament atau lembaran sebesar 12%,” ungkap  Prigi Arisandi salah satu anggota tim peneliti.

Lebih lanjut peneliti Prigi ini menjelaskan bahwa banyaknya mikroplastik jenis fiber ini menunjukkan pencemaran limbah domestik yang tidak dikelola dan langsung di buang ke sungai, salah satu komponen limbah domestik adalah air limbah cucian pakaian.

KLIK INI:  Pengasaman Laut Telah jadi Ancaman Baru bagi Ikan

“Pakaian yang kita pakai saat ini umumnya jenis polyester yang terbuat dari plastik. Dalam proses pencucian benag-benang plastik akan rontok dan terbilas dalam air cucian dan mencemari air sungai karena umumnya limbah domestik rumah tangga di Kota Makasar dibuang ke media air tanpa proses pengolahan,” tambahnya.

Mikroplastik ancam kesehatan

“Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari hasil pemecahan dari sampah plastik seperti tas kresek, Styrofoam, botol plastik, sedotan, alat penangkap ikan, popok dan sampah plastik lainnya yang dibuang di aliran sungai Jeneberang, karena paparan sinar matahari dan pengaru fisik pasang surut maka sampah plastik ini akan rapuh dan terpecah menjadi remah-remah kecil,” ujar Prigi Arisandi.

Secara umum Tim ESN melihat ada 3 faktor penyebab pencemaran mikroplastik di Sungai Jeneberang.

  • Minimnya layanan pengangkutan sampah

Pengankutan sampah dari rumah-rumah penduduk ke tempat pengumpulan sampah sementara masih minim. Secara umum kota/kabupaten di Indonesia hanya mampu melayani kurang dari 40% penduduk, sehingga 60% penduduk Indonesia tidak terlayani pengangkutan sampah. Mereka umumnya membakar sampah, menimbun dan membuangnya ke sungai, tiap tahun Indonesia membuang 3 juta ton sampah plastik ke laut melalui sungai dan menjadikan Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah China.

KLIK INI:  Mengenal Hutan Rawa, Fungsi, Karateristik, dan Sebarannya di Indonesia
Minimnya kesadaran memilah sampah dan membuang sampah

Memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya juga masih sangat minim. Indeks kepedulian lingkungan penduduk Indonesia masih rendah yaitu 0,56 dari skala 0-1, rendahnya kepedulian inilah yang menyebabkan penduduk Indonesia membuang sampah seenaknya, termasuk membuang sampah ke sungai, termasuk di Makasar dan Gowa.

Masifnya penggunaan plastik sekali pakai

Penggunaan plastic sekali pakai (PSP) seperti tas kresek, sedotan, styrofoam, popok dan botol plastik di Kota Makasar dan Gowa masih mafif. Hal ini menjadi agenda mendesak akan perlunya pengendalian penggunaan PSP.

KLIK INI:  Hentikan Tsunami Plastik Sesegera Mungkin!