Memerangi Ancaman Kepunahan Badak Jawa dengan Operasi Merah Putih

oleh -34 kali dilihat
Populasi Badak Jawa Terus Membaik di Ujung Kulon
Badak Jawa/foto-Cnn

Klikhijau.com – Operasi Merah Putih adalah operasi untuk memerangi ancaman kepunahan Badak Jawa. Operasi ini  diinisiasi Kementerian Kehutanan (Kemenhut).

Populasi sangat terbatas Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sangat terbatas. Saat ini hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon.

Kajian ilmiah memperingatkan, tanpa intervensi serius, spesies ini bisa punah dalam waktu kurang dari 50 tahun akibat rendahnya keragaman genetik, perkawinan sedarah, dan keterbatasan habitat.

Karenanya Kemenhut pada Jumat, 29 Agustus 2025 resmi memulai Operasi Merah Putih, yakni Translokasi Badak Jawa.

KLIK INI:  KFC Indonesia dan DCA, Edukasi Warga Akan Pentingnya Menjaga Lingkungan

Hal ini merupakan sebuah langkah besar untuk menyelamatkan satwa endemik Indonesia yang kian terancam punah.

Dengan dimulainya operasi ini, pemerintah berharap populasi Badak Jawa dapat lebih aman, sehat, dan berkelanjutan.

Kick Off Meeting yang dipimpin Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ini dihadiri jajaran Direktorat Jenderal KSDAE, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Yayasan Badak Indonesia (YABI), serta mitra konservasi nasional dan internasional.

“Saya kira ini adalah tanggung jawab moral, sosial, dan politik kita bersama untuk memastikan anak cucu kita masih memiliki Badak Jawa 50, 100, 200 tahun, bahkan selamanya,” ujar Raja Antoni.

KLIK INI:  Proses Hukum Jaringan Pengangkut Kayu Ilegal di Batam Terus Berlanjut

Lebih lanjut, Menhut menyampaikan bahwa dalam prosesnya, mulai dari rencananya berjalan dengan baik, termasuk melibatkan semua stakeholder. Menhut menilai ini satu hal yang sangat baik sekali.

“Semangat Pak Presiden Prabowo selalu mengatakan kita harus berkolaborasi, bekerja sendiri hampir mustahil bisa menghasilkan sesuatu hal yang monumental, sesuatu hal yang besar,” ungkapnya.

Menhut juga menegaskan penamaan Operasi Merah Putih tidak hanya sebagai slogan atau kata merdeka, tidak hanya semacam slogan yang disampaikan di penghujung pidato, tetapi ini adalah operasionalisasi dari spirit kemerdekaan itu sendiri.

Dalam hal ini, merdeka itu adalah ketika satwa seperti badak tidak mengalami kepunahan, tidak mengalami gangguan dan mereka merdeka di alam, di rimba sana.

“Saya merasa terhormat, saya merasa bangga dan memberikan dukungan yang penuh atas nama Kementerian terhadap program ini dan program serupa, inisiatif apapun,” katanya.

Wakil Asisten Operasi Panglima TNI, Marsekal Pertama TNI Muhammad Taufiq Arasj mengatakan TNI ikut mendukung penuh operasi ini melalui pengamanan, logistik, hingga transportasi laut, khususnya yang berasal dari alutsista Korps Marinir. Ia juga menyatakan TNI bangga bisa terlibat dalam upaya penyelamatan satwa langka ini.

KLIK INI:  Jelang Pemilu 2019, Menteri LHK Perintahkan Jajarannya Jaga Stabilitas Internal

“Pesan Bapak Panglima TNI, siap mendukung upaya-upaya pelestarian Badak Jawa ini,” ungkapnya.

Berbagai persiapan telah dilakukan

Sementara itu, Ketua Pengurus dan Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI), Jansen Manansang mengatakan langkah ini membuka harapan baru di masa depan untuk spesies ini.

YABI berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam konservasi badak Jawa melalui kerjasama lintas sektor, pendekatan ilmiah dan juga dengan menggunakan spesialisasi dokter-dokter, ahli medis yang berkualitas.

KLIK INI:  Kabar Baik, Lapangan Kerja Baru di Sektor Kehutanan Terbuka Lebar

“Mari kita jadikan operasi Merah Putih ini sebagai momentum bersama untuk memperkuat kolaborasi dan menegakkan komitmen kita dalam menjaga Badak Jawa yang merupakan aset bangsa yang sangat penting juga mahal, hanya ada di Indonesia,” ungkapnya.

Dalam laporannya, Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko menyampaikan bahwa berbagai persiapan penting sudah dilakukan, antara lain:

  • Pembangunan fasilitas Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) sebagai lokasi translokasi.
  • Pemilihan individu badak dengan mempertimbangkan haplotipe genetik berbeda untuk menghindari inbreeding.
  • Survei jalur pergerakan badak dan lokasi pit-trap untuk penangkapan aman.
  • Survei jalur transportasi dari lokasi tangkapan ke JRSCA, termasuk habituasi badak yang akan ditranslokasi.
  • Simulasi lapangan dan finalisasi SOP untuk memastikan seluruh prosedur berjalan lancar.
  • Penyusunan pedoman ethical assessment bersama para pakar nasional maupun internasional. (*)
KLIK INI:  Inovasi TAPAL21 Antar Kemenhut Raih Penghargaan Bhumandala Ariti 2025