Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Memancing Bekas Bibirmu

Memancing Bekas Bibirmu   Aku masih di pinggir kali ini memancing plastik kemasan air minum mencari bekas bibirmu di sana Sungguh, pada waktu yang tak ingin aku lupa kita pernah bertuka...

Oleh Idris Makkatutu 24 Apr 2022 00:00 2 menit baca

Memancing Bekas Bibirmu

  Aku masih di pinggir kali ini memancing plastik kemasan air minum mencari bekas bibirmu di sana Sungguh, pada waktu yang tak ingin aku lupa kita pernah bertukar napas saat bulan tepat di atas kepala Di pinggir kali ini aku mengenang semua akanmu. semua Di kemasan air minum yang kau minum ada bekas bibirmu bibir yang kerap jadikan aku layang-layang Kemasan air minum itu kupilahpilah sepulang dari memancingnya di kali tempat kau menghanyutkan segala sampahmu Aku masih pinggir kali ini sejak jam enam pagi mungkin saja kau sudah bangun meminum seteguk air membuang kemasannya ke kali Dan aku akan temukan bekas bibirmu yang segar sebelum laut menelannya Kindang, April 2022 [irp]

Di Mana pun Ada Aku

  Ke mana pun arah wajahmu di sana aku kau temukan Aku tuhan kecil di sekitarmu ada di mana-mana lebih dekat dari kekasih yang kau ajak vc Aku bertumbuh lebih cepat dari segala bulu yang kau kallu' dari tubuhmu aku menyesaki segala perihal Jika diabai itu kekejaman akulah paling dikejami Awal yang dipuja akhir yang diabai Aku: sampah Kindang, April 2022 [irp]

Susu Cokelat Seduhanmu

  Hujan turun di sore hari, di hari selasa kali depan rumah meluap airnya berwarna cokelat susu Aku bayangkan ketika suatu hari di hari libur kau menuangkan susu cokelat aku menyesapnya, rasanya hambar hanya dimaniskan senyummu yang purapura Saat itu hujan juga sedang menderas kita mendaras rindu di teras rumahmu tempias sesekali nakal menyentuh rambutmu berbentuk telur kutu di kepala Aku mengusap rambutmu kau tersenyum lalu menyilakan aku minum susu cokelat hambar itu (lagi) Dingin menyergapnyergap aku pamit ke kamar mandi membuang air kecil yang terasa sesak di perut. Keran kuputar air berwarna cokelat susu berhamburan keluar aku cicipi Rasanya hambar seperti yang kau tuang ke dalam gelas bergambar bunga wedelia hanya di maniskan senyummu yang pura-pura Aku keluar kamar mandi menuju ruang tamu di mana kamu duduk setelah teras di kepung tempias Di tv berlayar datar itu sedang tayang gunung yang gundul di ujung kampungmu sedang longsor. Kau menatapku, lalu menandaskan susu cokelat yang belum kuhabiskan Senyummu terasa tak lagi purapura tapi.... Kindang, April 2022 [irp]

Dari Halaman Tetangga

  Di sinilah aku terbaring lesu di tempat tidur menahan sesak dan batuk Tetangga di sebelah kiri rumah di mana angin datang sedang membersihkan halamannya Sampah-sampah di kumpulkan lalu dibakarnya Asapnya tembus ke kamar menyusup ke dalam ke tenggorokanku Aku sesak, tersesat Kindang, April 2022 [irp]
Topik terkait
#puisi #puisi lingkungan #memancing #sastra dan lingkungan #bibir