Suka Duka dari Pinggir Kanal Rajawali Makassar, di Antara Sampah dan Ritus Ala Pesisir

oleh -261 kali dilihat
Suka Duka dari Pinggir Kanal Rajawali Makassar, di Antara Sampah dan Ritus Ala Pesisir
Aktivitas masyarakat di Kanal Rajawali Makassar - Foto/Ist
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Melewati ruas jalan Tanjung Bunga Makassar, tepatnya di seberang gedung celebes convention centre (CCC), terdapat lorong kecil yang jalannya berlapis tanah padat.

Di sepanjang jalan lorong ini, nampak jajaran rumah-rumah kecil semi permanen berupa hunian masyarakat yang juga berfungsi sebagai kios-kios kecil.

Menyisir sepanjang jalan kecil, akan tiba di perempatan lorong, tepat di sebelah bangunan bertingkat yang tak lain ialah Rumah Susun (Rusun) sederhana.

Letak gedung Rusun dengan jalan lorong dipisahkan oleh aliran kanal kecil yang berujung di pelelangan ikan, tempat kapal-kapal nelayan bersandar. Dari Rusun menuju pelelangan ikan, panjang kanal Rajawali kira-kira hanya beberapa meter saja.

Meski begitu, kanal rajawali memiliki makna yang besar bagi masyarakat Panambungan. Kehadiran kanal tak hanya digunakan sebagai saluran pembuangan limbah cair rumah tangga masyarakat sekitar kanal, tapi juga sebagai jalur mobilitas nelayan.

Menjelang petang, kanal Rajawali akan sibuk dengan lalu lintas kapal-kapal nelayan yang hendak keluar melaut. Jarak kanal dari jembatan tongkonan CPI yang tak terlalu jauh menjadikan kanal rajawali sebagai tempat bersandar kapal-kapal kecil penangkap ikan dan cumi.

KLIK INI:  Meriahnya Festival Lingkungan yang Digelar P3E Suma KLHK di SMA 14 Makassar

Keberadaan pelelangan ikan (lelong) rajawali yang berada tepat di pinggiran kanal membuat kanal rajawali sebagai pos akhir kapal nelayan setelah melaut. Hasil tangkapan ikan nelayan biasanya langsung dibawa ke tempat ini untuk dijual pada pengepul ataupun penjual ikan yang tak lain merupakan teman dekat mereka.

Lelong juga kerap disinggahi nelayan yang berasal dari luar Makassar, seperti nelayan asal Takalar dan Sinjai yang turut menjual tangkapannya di tempat ini. Hadirnya kapal-kapal nelayan luar rajawali seolah meramaikan tepian kanal.

Selain menjual ikan, mereka juga membeli bahan pokok seperti tabung gas, galon air, beras dan kebutuhan lainnya untuk dibawa ke daerah asalnya.

Kondisi kanal Rajawali

Tepian kanal juga dijadikan tempat bersantai masyarakat sekitar di kala sore hari. Seolah menanti terbenamnya matahari, masyarakat panambungan yang sebagian besarnya pria dewasa bersenda gurau di tempat ini.

Sementara bapak-bapak ini mengobrol ria, anak-anak mereka nampak bahagia mencelupkan badannya di pinggiran kanal. Sebagian anak lainnya terlihat berupaya mendayung perahu yang telah terikat di pinggir kanal, seolah-olah sedang melaut. Air dari kanal rajawali juga digunakan masyarakat untuk membersihkan kapal, menyiram jalan lorong yang berpasir, mencuci motor/mobil, dan menyiram tanaman mereka.

KLIK INI:  Antang dan Orkestra Kemacetan di Pinggiran Kota Makassar

Meski begitu, kondisi kanal sesungguhnya tak seindah senyum anak-anak dan orang tua nelayan panambungan. Ada masalah umum yang terjadi nyaris di seluruh kanal di Kota Makassar, yaitu pencemaran air kanal.

Rasanya pencemaran kanal rajawali jauh lebih parah dibandingkan kondisi kanal-kanal lainnya di kota ini.

Tepat di pinggiran pelelangan ikan yang sebetulnya berada di bagian belakang lelong, sampah-sampah memenuhi tepi kanal. Tumpukan  sampah di tempat ini nyaris menyatu dengan tanah lelong, sehingga nampak seperti tepian kanal.

Tak hanya itu saja, di beberapa tempat terlihat tumpukan sampah botol dan kantong plastik berserakan di pinggiran kapal nelayan. Sampah-sampah ini menimbulkan bau tak sedap di sekeliling kanal.

Kepungan sampah

Kondisi ini meresahkan masyarakat yang rumahnya berada tepat di depan kanal. Hampir setiap waktu, masyarakat Panambungan harus membiasakan diri mencium aroma bau busuk yang keluar dari kanal.

Sampah-sampah ini juga menyebabkan air kanal berwarna hijau pekat. Beberapa warga setempat mengeluhkan tertahannya sirkulasi air akibat pembangunan jalan depan pelelangan ikan yang menghambat perputaran air kanal.

KLIK INI:  Mengintip Cara Australia Hemat Energi dan Terapkan Green Building

Beberapa nelayan rajawali menjelaskan kalau dulunya sepanjang tepian kanal merupakan pesisir laut. Kala itu, di hadapan pelelangan ikan terlihat laut lepas Selat Makassar, menjadikan lelong sebagai pasar ikan tersibuk di Kota Makassar.

Berbeda dengan kondisinya kini, dimana terdapat pagar tembok di depan lelong. Sebelah tembok, terlihat petak-petak tanah hasil timbunan yang memotong kanal sehingga nampak sempit.

“Dulu di depan lelong sebelum di reklamasi, aman-aman saja ini kanal, karena langsung terhubung dengan laut. Sepanjang disinikan dulunya adalah pantai. Nanti setelah ditimbun, air kotor tertahan di sekitar sini, ini yang kemudian menjadi lumpur,” tutur salah seorang nelayan yang ketika itu tengah bersantai di samping lelong.

Sampah yang tertahan di kanal ini menurut penuturan warga setempat merupakan kiriman dari kanal-kanal yang berada di sekitar Makassar. Wajar saja, letak kanal rajawali berada di penghujung jalur air kanal tepat sebelum jembatan CPI, jalur akhir pembuangan air menuju laut Makassar.

Biasanya ketika hujan tiba, sampah yang berada di kanal lain terbawa arus air dan masuk ke dalam kanal rajawali, kemudian tertahan di tempat ini.

kanal
Kapal-kapal yang sandar di sekitar kanal Rajawali Makassar – Foto/Ist

Pencemaran kanal kian parah oleh aktivitas membuang sampah di kanal rajawali. Ketika berada di tempat ini, saya mendapati beberapa warga membuang sampah rumah tangga langsung di pinggiran kanal.

KLIK INI:  Cuaca Buruk, Sejumlah Rute Pelayaran Ditutup Termasuk di Perairan Makassar

Salah satu alasan utama adalah belum tersedianya tempat sampah di depan rumah mereka sehingga kanal menjadi pilihan tempat pembuangan sampah masyarakat. Meski hanya beberapa watga, namun tertahannya sampah di kanal ini memperparah kondisi kanal.

Beberapa warga juga mengeluhkan belum adanya peraturan atau sanksi yang jelas untuk diberikan kepada warga yang membuang sampah di kanal.

“Kalau sampah dari jalan Nuri terbawa ombak jadi tertahan disini. Kalau naik air, biasanya kesini lagi. Dari dulu sudah begini sampah. Harus ada aturan tegas untuk orang yang buang sampah ke kanal. Seperti di Paotere, kalau warga buang sampah ke sungai kena denda uang. Karena sampah tidak mengalir jadi tertahan”, ujar salah seorang warga yang tinggal di pinggir kanal rajawali.

Pencemaran kanal Rajawali bisa saja berdampak buruk apabila masyarakat menggunakan air kanal yang tercemar untuk kebutuhan sehari-hari. Tumpukan sampah di sekitar kanal menjadi rumah bagi jutaan mikrobakteri yang dapat mengacam kehidupan masyarakat sekitar.

Belum lagi, berkembang biaknya hewan penyebar penyakit yang tumbuh subur di tempat kotor seperti tikus, nyamuk demam berdarah dan lainnya. Masyarakat menjadi rentan terkena penyakit gatal-gatal, diare hingga demam berdarah.

Selain bau tak sedap dan penyakit, sampah-sampah ini juga menyimpan masalah lain bagi nelayan. Ketika memasuki musim kemarau atau saat air tengah surut di sekitar kanal, laju kapal-kapal nelayan biasanya tertahan lumpur yang terendap di dasar kanal.

Akibatnya, nelayan kesulitan untuk keluar melaut. Nelayan-nelayan ini juga mengeluhkan pembangunan reklamasi CPI yang menghambat masuknya air kedalam tempat kapal mereka bersandar.

KLIK INI:  Hujan Es, Peristiwa yang Lazim di Musim Pancaroba?

Bagi mereka, surutnya air di sekitar kanal disebabkan oleh penimbunan pesisir laut yang menyebabkan air laut tak masuk ke dalam kanal.

Tak hanya di musim kemarau, ketika memasuki musim hujan justru masalah kian dihadapi nelayan. Letak kanal Rajawali yang berada di ujung terluar jalur kanal barat Makassar memberikannya banyak arus air sehingga berdampak bagi kapal-kapal nelayan.

Masalahnya kata mereka, beberapa kali kapal nelayan rusak akibat terseret arus air kanal yang deras. Nasib sial bila kapal mereka menghantam sisi tembok beton pinggir kanal sehingga dapat merusak kapal nelayan.

Permasalahan yang dialami masyarakat Panambungan sebenarnya juga dialami masyarakat lain yang menetap di sekitar kanal. Kanal Nuri contohnya, kondisi kanal ini tak jauh berbeda dari kanal Rajawali.

Tumpukan sampah, bau tak sedap, dan air kanal yang keruh mewarnai keseharian warga yang tinggal di sekitar kanal ini. Serupa dengan kanal Rajawali, kanal Nuri juga digunakan sebagai jalur transportasi kapal-kapal nelayan.

Selain itu, banyak terlihat penjual ikan hasil tangkapan nelayan yang membuka stan jualannya tepat di pinggiran jalan, depan kanal ini. Kanal Nuri juga terhubung langsung dengan kanal Rajawali, dimana kanal rajawali menjadi titik akhir jalur air kanal untuk keluar ke laut.

KLIK INI:  Misteri di Balik Tanaman Monstera yang Menangis di Pagi Hari