Mecemece, Jam Leluhur yang Tak Pernah Ingkar

Klikhijau.com - Bagi Puang Solong kecil yang sedang belajar berpuasa. Melihat mecemece mengatupkan daunnya adalah kabar gembira. Sebab itu berarti masa berbuka puasa akan segera tiba. Mengatupnya a...

Mecemece, Jam Leluhur yang Tak Pernah Ingkar
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Bagi Puang Solong kecil yang sedang belajar berpuasa. Melihat mecemece mengatupkan daunnya adalah kabar gembira. Sebab itu berarti masa berbuka puasa akan segera tiba.

Mengatupnya atau tertutupnya daun mecemece adalah tanda hari sudah sore, menunjukkan waktu jam lima sore.

Saat ini Puang Solong telah menginjak usia 60-an tahun. Ketika ia masih kecil, jam maupun radio adalah barang yang sangat langka di kampungnya, Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba. Hanya orang tertentu yang memilikinya.

Maka yang jadi penanda waktu saat sore jelang berbuka puasa adalah mecemece. Sebenarnya bukan hanya mecemece yang jadi “jam” pada saat itu, tetapi juga ayam dan cirri’. Cirri adalah sejenis serangga yang akan “bernyanyi” saat jelang malam.

Namun, penunjuk waktu yang paling akurat adalah mecemece. Penanda waktu yang lain terkadang mengikuti cuaca pada hari itu.

"Saat daunnnya dopa' (tertutup)  itu berarti sudah jam lima sore," ungkap Puang Solong beberapa waktu lalu.

"Ketika usia saya sekitar 12 tahun, mecemece masih digunakan masyarakat sebagai penunjuk waktu, sebagai jam,” lanjutnya.

Karena itu, hampir di setiap rumah selalu ada mecemece yang sengaja ditanam di halaman atau di sekitar rumah.

Bukan hanya Puang Solong yang memanfaatkan kesetiaan daun mecemece mengatup pada jam lima sore, tapi umumnya masyarakat Kindang di masa lalu.

"Jam dan radio itu hadir belakangan, dulu patokannya daun mecemece saat hendak berbuka puasa," ujarnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2