Mecemece, Jam Leluhur yang Tak Pernah Ingkar

Klikhijau.com - Bagi Puang Solong kecil yang sedang belajar berpuasa. Melihat mecemece mengatupkan daunnya adalah kabar gembira. Sebab itu berarti masa berbuka puasa akan segera tiba. Mengatupnya a...

Mecemece, Jam Leluhur yang Tak Pernah Ingkar
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Kehadiran mecemece yang setia pada waktu, banyak membantu masyarakat saat menjalankan ibadah puasa agar berbuka tepat waktu. Juga membantu agar tidak kemalaman di ladang atau kebun.

"Saat mecemece menutup daunnya, itu sudah jam lima sore, jadi orang-orang dapat bergegas pulang dari kebun agar tidak kemalaman," terang Hj Bacce.

Perempuan 80 tahun itu juga menjelaskan, ia dan suaminya dulu menjadikan mecemece sebagai penanda waktu yang paling tepat.

Pengusir hama babi

Pemanfaatan utama mecemece di masa lalu yang paling populer adalah sebagai jam. Namun, ada pula yang memanfaatkannya untuk mengusir atau menghalau hama babi hutan masuk ke ladang jagung warga.

Di masa lalu, masyarakat Desa Kindang adalah petani jagung. Jagung menjadi makanan pokok. Namun, perlahan ladang jagung berubah menjadi kebun kopi dan cengkeh. Sehingga pada akhirnya banyak masyarakat yang beralih menggarap sawah—secara otomatis pun makanan pokok mereka berubah. Dari jagung ke beras.

Saat masyarakat masih aktif menanam jagung. Pada saat itulah mecemece memamerkan perannya yang luar biasa sebagai pengusir atau penghalau hama babi hutan. Bukan hanya pada ladang jagung, tetapi juga pada sawah serta lahan lain yang ditanami komoditi yang disukai babi.

Cara menggunakan mecemece sebagai penghalau babi hutan cukup simple, yakni dijadikan sebagai pembasah paccappi. Paccappi adalah kain yang disobek atau kecil-kecil lalu ditancapkan atau digantung pada pada area tertentu lahan, misalnya pada area yang memungkinkan dilewatai atau dijadikan pintu masuk babi hutan.

Sebelum ditancapkan, kain terlebih dahulu dibasahi, setelah dibasahi. Daun mecemece akan dibakar, lalu kain kemudian diasapi.

Daun mecemece yang dibakar memiliki bau yang menyengat, baunya itulah yang tak disukai oleh babi sehingga menghindarinya.

Kenapa kain harus dibasahi terlebih dahulu, agar bau asap daun mecemece melengket dan tahan lebih lama.

“Saat ladang sudah dipasangi paccappi dengan menggunakan asap daun mecemece, babi hutan tidak berani mendekat,” ujar Hadamin yang merupakan salah satu warga Desa Kindang dan pelaku penggunaan daun mecemece sebagai paccappi’.

[caption id="attachment_33446" align="aligncenter" width="1280"] Daun mecemece-foto/Ist[/caption]

Mirip daun katuk dan kelor

Mecemece, jika dilihat sekilas sangat mirip dengan daun katuk. Hanya saja jika daun katuk dimanfaatkan sebagai sayuran dan baik dikonsumi oleh ibu menyusui karena dapat memperlancar Air Susu Ibu (ASI), maka mecemece tidak demikian.  Tumbuhan ini tidak dimakan.

Jika saat ini daun katuk sengaja ditanam, maka mecemece—yang dulu pernah sengaja ditanam saat ini menjdi tanaman liar yang banyak tumbuh di kebun, entah itu kebun cengkeg atau kopi.

Perbedaan lainnya, daun katuk juga lebih lebar daripada daun mecemece. Daun mecemece juga terlihat mirip dengan daun kelor, baik warna maupun lebar daunnya. Bau daun keduanya pun sangat mirip.

Perkembangan zaman menggerus dan menghadirkan pula banyak hal baru. Termasuk jam tangan, jam dinding, radio hingga jam yang terbawa secara otomatis melalui handphone.

Keberadaan jam sebagai penunjuk waktu modern, membuat keberadaan mecemece tidak lagi dilirik. Ia menjadi mantan terindah penunjuk waktu dan pengusir hama babi hutan yang kini diabaikan.

Masyarakat saat ini tidak lagi membutuhkan mecemece sebagai penunjuk waktu jika malam akan segera tiba atau waktu berbuka puasa hampir sampai. Sebab jam telah berdetak setiap saat, selain itu suara radio pun bersahutan dari masjid

Selain sebagai penunjuk waktu dan paccappi’ mecemece, menurut Puang Mili dapat pula dimanfaatkan  sebagai obat. Tumbuhan ini cukup ampuh mengobati orang yang menderita muntah darah.

"Pabballe lompo (obat mujarab) intu mecemecea punna nia tau ta’lua rara (obat mujarab itu mecemece untuk orang yang mutah darah,” terang Puang Mili, Minggu, 19 November 2023.

Cara penggunaan mecemece sebagai obat muntah darah sederhana saja, cukup ambil daunnya, remas lalu rebus kemudian minum air rebusannya.

Mengarah ke tumbuhan Breynia

Mecemece, saat ditelusuri pada aplikasi pendeteksi jenis tumbuhan kita akan diarahkan pada tumbuhan Breynia

Breynia sendiri adalah genus tumbuhan dalam keluarga Phyllanthaceae. Tumbuhan ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1776.

Negara asal Breynia lebih dari satu, di antaranya Asia Tenggara , Tiongkok, dan  Australia. Tumbuhan Breynia bukan hanya satu spesies saja, tapi cukup banyak. Namun, yang paling menyerupai mecemece adalah jenis Breynia retusa.

Namun, rasanya tidak penting, apakah mecemece adalah jenis Breynia atau bukan, yang terpenting adalah menjaga kelestariannya dan tetap mengingatnya sebagai penunjuk waktu atau jam yang pernah sangat setia menemani para leluhur kita.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2