Masa Depan Kopi Indonesia di Tengah Krisis Iklim?

Klikhijau.com - Krisis iklim kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang tengah dihadapi dunia—dan industri kopi Indonesia tidak luput dari dampaknya. Dalam webinar bertajuk “Kopi dan...

Masa Depan Kopi Indonesia di Tengah Krisis Iklim?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Krisis iklim kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang tengah dihadapi dunia—dan industri kopi Indonesia tidak luput dari dampaknya.

Dalam webinar bertajuk “Kopi dan Tantangan Global Isu Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh Klikhijau pada Senin 5 Mei 2025, Steve Ganiputra Hidayat—CEO PT Selera Indah Perdana—memaparkan dengan jelas bagaimana iklim yang terus berubah mengancam eksistensi kopi Indonesia, serta langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk menjawab tantangan ini.

Sejak abad ke-17, kopi telah menjadi denyut nadi ekonomi dan budaya Indonesia. Namun kini, lahan-lahan kopi menghadapi tekanan besar akibat naiknya suhu global, perubahan pola hujan, dan intensifikasi hama serta penyakit tanaman.

Berdasarkan data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu bumi yang meningkat lebih dari 2°C dapat membuat 60% wilayah penghasil kopi dunia menjadi tidak lagi layak tanam. Untuk Indonesia, yang merupakan negara tropis dengan lanskap pegunungan yang ideal bagi kopi Arabika, kondisi ini menjadi sangat krusial.

Steve Ganiputra Hidayat menjelaskan bahwa perubahan iklim bukan hanya memengaruhi kuantitas, tetapi juga kualitas biji kopi. “Suhu yang lebih panas mempercepat proses pematangan buah, dan ini menyebabkan penurunan kualitas rasa kopi. Hal ini berisiko menurunkan daya saing kopi kita di pasar global,” ujarnya.

Mengembangkan Kopi yang Tahan Iklim

Dalam pemaparannya, Steve menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam menghadapi krisis ini. PT Selera Indah Perdana sebagai artisan coffee roaster mengambil peran aktif dalam membantu petani melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Salah satu strateginya adalah bekerja langsung dengan petani dalam meningkatkan kualitas panen melalui praktik budidaya berkelanjutan serta mencatat proses pascapanen secara rinci agar kualitas rasa tetap konsisten.

“Di Indonesia, sayangnya kopi masih banyak diperlakukan sebagai komoditas mentah. Padahal, di balik secangkir kopi, ada kerja keras dan nilai budaya yang besar. Kami ingin mendorong transformasi dari kopi sebagai barang ekspor mentah menjadi produk jadi bernilai tinggi,” lanjutnya.

Transformasi ini tidak hanya memberi nilai tambah secara ekonomi, tetapi juga membuka jalan bagi sistem produksi yang lebih ramah lingkungan. Steve menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam industri kopi, tidak hanya sebagai barista atau penikmat kopi, tetapi juga sebagai pelaku inovasi dan edukasi di lapangan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2