Lipa' Sa'be

Kali ini aku ke kampungmu. Mengetuk pintu rumahmu meski tanpa respons. Seperti dulu, ketika kuketuk pintu hatimu yang beku juga tak ada respons. Tapi aku terus saja menancapkan harap dan tak henti men...

Lipa' Sa'be
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Kali ini aku ke kampungmu. Mengetuk pintu rumahmu meski tanpa respons. Seperti dulu, ketika kuketuk pintu hatimu yang beku juga tak ada respons. Tapi aku terus saja menancapkan harap dan tak henti mengetuk, meski selalu nuansa kabut kamu busurkan.

Tujuh tahun lalu, tentu bukanlah waktu yang singkat untuk mengingat janji dan menunaikannya. Hari ini, tepat di hari Jumat. Genap tujuh tahun, ketika aku berjanji akan ke kampungmu dan mengetuk pintu rumahmu. Hari ini aku menunaikannya. Aku juga ingin mencari rindumu. Barangkali ada secuil rindu kamu simpan untukku. Meski yakinku menipis tentang hal itu.

Dengan Bus Putra Malam, aku mencoba menembus malam. Melewati jalan yang terbengkalai karena proses ganti rugi lahan warga yang tak beres. Jalan poros Maros yang mengancam jiwa para penggunanya. Jalan beton Pangkep hingga Barru yang selalu menguapkan ngeri di batinku dan semua orang yang melewatinya. Tapi tak ada gentar kuternakkan. Aku telah bulatkan tekad untuk ke kampungmu malam ini, di malam Sabtu.

“Kapan kamu tunaikan janjimu, akan datang ke kampungku, mengetuk pintu rumahku. Aku menunggu keseriusanmu.” Siang tadi,  aku terima esemesmu itu. Dan esemesmu itulah yang jadi hiburan untuk menaklukkan liukan jalan yang ganas. Menembus malam yang pekat disisa hujan.

Ketika aku terima esemesmu itu, tanpa pikir panjang, bahkan tanpa memikirkan apa-apa selain sampai ke kampungmu. Kutaklukkan hujan. Tak kupeduli kuyup menggigilkanku. Tujuh tahun aku menunggu responmu. Hari ini aku menemukan muaranya.

Wajah riang kupasang aduhai. Aku menabur senyum kepada siapa saja yang kutemui. Menerima esemesmu menagih janjiku adalah putik yang bermekaran di kemarau.

***

Di perjalanan yang bergelombang, kubayangkan kamu menyambutku dengan lilitan lipa’ sa’be yang jadi karya agung di kampungmu. Tersohor ke penjuru dunia. Aku ingat tuturmu yang sehalus sutra akan menyapaku lembut. Mungkin karena kamu berasal dari kampung sutra, hingga perasaanmu lembut.

Pekerjaanmu sangat teratur dan teliti. Kamu juga tak mudah putus asa seperti anyaman benang sutra yang tipis membentuk kain yang kuat. Di kampung itulah kamu menghabiskan masa kanakmu dan menemukan cinta pertama di pangkuan ibumu.

Dulu aku selalu terkesima jika melihatmu. Dengan terang-teranganku kuperagakan cintaku di hadapanmu. Tapi cara menolakmu cukup halus, sehalus sutra. Aku tersenyum sendiri membayangkan kenangan kita. Kutatap malam dengan liar melalui jendela bus yang kutumpangi.

“Andaikan jalan dari Maros sampai Barru tidak rusak, perjalanan kita lebih mudah dan cepat sampai,” ujar sopir bus tersebut. Entah ditujukan kepadaku atau kepada keseluruhan penumpang.

“Mungkin pemerintah menunggu korban lebih banyak lagi baru memperbaiki jalanan ini, atau menunggu musim kampanye untuk berlomba-lomba menyumbang demi menarik simpati masyarakat,” ujar seorang lelaki setengah baya yang duduk di belakang si sopir. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kubaca lagi esemes yang kamu kirim tadi siang.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2