Lipa' Sa'be

Kali ini aku ke kampungmu. Mengetuk pintu rumahmu meski tanpa respons. Seperti dulu, ketika kuketuk pintu hatimu yang beku juga tak ada respons. Tapi aku terus saja menancapkan harap dan tak henti men...

Lipa' Sa'be
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Kedua orang itu larut dalam ceritanya, sesekali penumpang lain ikut meramaikan protesnya ke pemerintah yang mengabaikan jalan tersebut. Kuakui perjalanan dari Maros-Pangkep hingga Barru memang mengerikan. Jalan beton yang terputus-putus dan berlubang sangat mengancam pengguna jalan. Sangat dibutuhkan kejelian yang ekstra hati-hati agar tak jatuh kecelakaan mencium tanah air.

Perjalanan malam ini ke kampungmu menggugah dan penuh aral. Kubayangkan bagaimana responmu melihatku belepotan rindu ketika menatap wajahku. Kubayangkan wajah riangmu karena aku lelaki yang akhirnya bisa menunaikan janji, meski telah berlalu tujuh tahun lamanya.

Sungguh aku tak pernah lupa janji itu, Devika.  Janji yang kedengaran sepele dan mengada-ada. Tapi aku melipat janji itu dalam lipatan lipa’ sa’be pemberianmu.

***

Tujuh tahun lalu kita pernah akrab sedemikian rupa sebagai karib, tak lebih, meski telah kuakui berkal-kali kalau aku mencintaimu dengan cara yang lumrah sebagai lelaki. Namun, dengan sehalus sutra kau juga berkali-kali menolakku. Tak ada responmu sebagai perempuan yang mencintaiku. Aku tak putus asa, hingga suatu sore yang lindap kamu pamit untuk pulang kampung. Kamu meninggalkan pekerjaanmu.

“Aku ingin pulang, menjaga ibu yang telah tua rentah dan belajar menenun lipa’ sa’be, meneruskan usaha keluarga yang turun-temurun,”  ungkapmu kala itu.

“Apa kamu tega meninggalkan pekerjaanmu, padahal di luar sana banyak orang yang saling sikut untuk dapat pekerjaan,” bujukku.

“Orang tuaku lebih penting,” katamu.

“Apa kamu akan meninggalkanku, meninggalkan cinta yang tak juga kamu balas,” rayuku.

“Hahahahaha, Ridwan, berhentilah mengucap cinta padaku. Sungguh aku tak berniat menjalin hubungan seperti yang kamu harapkan itu, aku telah sangat nyaman sebagai sahabatmu.”

“Kelak, aku akan ke  kampungmu, mengetuk pintu rumahmu,” janjiku

“Hahahahaha, jangan menyiksa diri. Tidak perlu mengucapkan janji. Telah banyak janji yang ditabur di negeri ini.”

Setelah itu pada malam harinya, tepat di malam Sabtu, seperti malam ini. Kamu benar-benar pulang kampung meninggalkan pekerjaanmu dan meninggalkan cinta yang bara di dadaku. Dan entah kenapa siang tadi jemarimu merangkai kata menagih janjiku yang hampir kulupa itu.

“Apakah telah berubah kiblat hatimu atau hanya ingin mengingatkanku, menepati janji itu penting,” gumamku.

Aku tak temukan jawabnya. Sementara malam tak lagi muda. Semua penumpang lelap. Aku terjaga sendiri karena membaca esemesmu berkali-kali. Selalu kuyakinkan diriku bahwa esemes itu benar-benar darimu.

***

Aku sampai di kampungmu di pagi gelap yang sunyi. Aku kecewa karena berharap ingin sampai disaat cahaya mentari menampar dedaunan agar aku bisa menikmati Danau Tempe di pagi hari.

Aku terlambat bangun karena dicumbui kelelahan naik mobil semalam. Ketika bangun tanpa ba, bi, bu aku langsung bergegas menuju rumahmu.  Tujuh tahun lalu, kamu pernah memberikan alamatnya padaku. Maka dengan sigap aku bertanya pada warga kampung. Hingga seorang warga menunjukkannya. Katanya di dekat pasangrahan pemerintah daerah. Jalan ke arah pasangrahan itu berbukit.

Ketika di pasangrahan maka kotamu akan telihat memukau dengan hiasan Danau Tempe yang konon merupakan penghasil ikan tawar terbesar di negeri ini, bahkan di dunia. Di Danau Tempe itu pula ada rumah-rumah terapung yang punya daya tarik tersendiri. Bagaimana mungkin leluhurmu menemukan ide membuat rumah terapung di danau tersebut yang berair keruh. Aku mengaguminya.

Tak sulit menemukan rumahmu. Orang tuamu sebagai penenun lipa’ sa’be yang handal dikenal di seluruh penjuru kotamu. Kamu juga ikut terkenal, Devika. Menyebut namamu, membuat warga tersenyum. Dan disisa pagi. Aku berdiri di depan rumahmu, tepat di hari Sabtu. Aku mengetuk pintu rumahmu dengan halus. Berkali kali. Tak ada respons, aku berdiri lesu.

Kelabat kenangan tujuh tahun lalu, ketika kamu berkali-kali menolakku terbayang tunai. Apakah hari ini hal itu terulang kembali. Jika memang iya, tak apa aku telah tunaikan janjiku berkunjung ke kampungmu dan mengetuk pintu rumahmu.

Kuketuk sekali lagi pintu rumah tapi tetap tak ada respon. Kupungut daun kering di depan rumahmu, lalu kutulisi, kali ini aku ke kampungmu, mengetuk pintu rumahmu, meski tanpa respon. Tunai sudah janjiku tapi belum tunai cintaku. Lalu daun kering itu kusimpan di lipatan lipa sa’be pemberianmu yang jadi monumen kenangan di mana aku mengerti air mata.

 Wajo-Makassar 2011

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2