Lantaran Senggol Isu PLTA Batang Toru dan Orangutan Tapanuli, Diskusi Diintimidasi?

KLikhijau.com -  Satya Bumi bekerjasama dengan The Society of Environmental Journalist (SIEJ) serta didukung sejumlah organisasi sosial masyarakat seperti Walhi, Auriga, Elsam, Huma, Trend Asia, Green...

Lantaran Senggol Isu PLTA Batang Toru dan Orangutan Tapanuli, Diskusi Diintimidasi?
Bacakan Artikel

KLikhijau.com -  Satya Bumi bekerjasama dengan The Society of Environmental Journalist (SIEJ) serta didukung sejumlah organisasi sosial masyarakat seperti Walhi, Auriga, Elsam, Huma, Trend Asia, Green Justice Indonesia, LBH Pers, dan Garda Animalia menggelar acara diskusi publik bertajuk “Masa Depan Orangutan Tapanuli dan Ekosistem Batang Toru” di sebuah kafe di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.

Acara ini merupakan respons atas hasil liputan kolaborasi bersama lima media massa nasional beberapa waktu lalu, yang diinisiasi SIEJ bekerjasama dengan Satya Bumi.

Dalam diskusi dibahas sejumlah permasalahan yang mengancam ekosistem Batang Toru–salah satu dari sedikitnya hutan hujan alami yang masih tersisa di Indonesia sekaligus habitat terakhir Orangutan Tapanuli.

Pongo Tapanuliensis atau Orangutan Tapanuli adalah spesies kera besar paling terancam punah di dunia dan sudah masuk dalam red list The International Union for the Conservation of Nature (IUCN). Populasinya hanya tersisa 800 individu dan berstatus paling langka.

[irp]

Hadir sebagai pembicara dalam acara ini, antara lain; Peneliti Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara Onrizal; Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan, Executive Vice President Konstruksi Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi PT PLN (Persero) Weddy Bernadi Sudirman, Manajer Kampanye Hutan Walhi Uli Arta Siagian, dan Direktur Eksekutif Satya Bumi. Hadir pula sebagai pembicara Abdus Somad, Jurnalis Jaring.id yang menjadi bagian tim Liputan Kolaborasi SIEJ.

Onrizal memaparkan bahwa ada sejumlah proyek tambang dan energi yang mengusik ekosistem Batang Toru. Salah satu ancaman terbesar saat ini berasal dari pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru. Hasil riset yang dilakukan oleh Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa proyek PLTA telah menggeser habitat orangutan.

Onrizal selaku Associate Professor Ekologi dan Konservasi Hutan Tropis USU ialah ahli yang terlibat dalam penyusunan AMDAL PLTA Batang Toru pada 2013. Namun beberapa masukannya terkait penanganan kerentanan orangutan tapanuli tak masuk dalam Amdal perubahan.

Ia mengaku kecewa dengan sikap pemerintah dalam proyek pembangunan PLTA. Padahal kondisi orangutan Tapanuli kian terancam.

Menurutnya, proyek PLTA akan berdampak pada kian terfragmentasinya kawasan ekosistem orangutan di Batang Toru. Dengan adanya proyek PLTA, kata Onrizal, habitat orangutan akan terbelah oleh arus sungai yang berpotensi makin melebar.

[irp]

Hal ini dikhawatirkan akan menekan pasokan makanan, serta mendorong perkawinan sedarah (inbreeding) yang dapat membuat orangutan rentan terhadap penyakit menular. Padahal populasi orangutan rawan dan sudah menurun. Untuk itu, konservasi Orangutan Tapanuli dan habitatnya menjadi prioritas yang mendesak.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: