Konflik dengan Warga, Sebab Terbesar Matinya Gajah Sumatera di Aceh

Klikhijau.com - Beberapa waktu terakhir, di Provinsi Aceh ditemukan bangkai gajah sumatera. Ada beberapa artikel yang saya baca tentang kematian satwa yang dilindungi ini dalam rentang waktu yang berd...

Konflik dengan Warga, Sebab Terbesar Matinya Gajah Sumatera di Aceh
Bacakan Artikel

Lalu, angka itu kembali meningkat menjadi 103 kasus pada 2017. Meski sempat turun ke angka 73 kasus pada 2018, namun kembali meningkat pada 2019 menjadi 107 kasus.

Total gajah mati selama kurung waktu 2016 hingga 2020 ini setidaknya tercatat 38 ekor. Penyebab kematiannya sebagian besar (74 persen) disebabkan karena konflik, 14 persennya karena perburuan dan 12 persen disebabkan mati alami.

Gajah mati (tak lagi) meninggalkan gading

Data dari BKSDA Aceh di atas menunjukkan konflik gajah dengan manusia kian meningkat di wilayah itu. Dalam kondisi ini, habitat gajah semakin berkurang.

Ini berarti, kelangsungan habitat hewan besar tersebut juga semakin terancam. Apalagi, 85 persen populasinya kini berada di luar Kawasan konservasi, bahkan sudah berada di luar Kawasan hutan.

Konflik satwa ini tentu terjadi karena habitat mereka sudah terganggu. Tidak ada strategi khusus penanganan konflik ini kata Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto.

Koordinator FJL Aceh, Afifuddin berharap, seluruh pemangku kepentingan dapat terlibat mencegah konflik satwa ini. Bukan hanya pihak BKSDA saja, tetapi keterlibatan berbagai pihak dibutuhkan agar satwa yang dilindungi itu tidak punah di masa datang.

Sengatan listrik itu bukanlah satu-satunya penyebab kematian dan berkurangnya jumlah Elephas maximus sumatrensis ini.

Gajah sumatera bahkan mati karena gadingnya. Jaringan perdagangan satwa dilindungi juga menjadi penyebabnya karena berburu gading.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: