Kearifan Ekologis Masyarakat Adat Kajang dalam Melestarikan Lingkungan

Klikhijau.com - Suku Kajang merupakan satu suku atau Komunitas Adat yang terdapat di Kecamatan Kajang Kabupaten  Bulukumba Sulawesi Selatan. Kawasan Adat ini berjarak sekira 165 kilometer dari Kota Ma...

Kearifan Ekologis Masyarakat Adat Kajang dalam Melestarikan Lingkungan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Suku Kajang merupakan satu suku atau Komunitas Adat yang terdapat di Kecamatan Kajang Kabupaten  Bulukumba Sulawesi Selatan. Kawasan Adat ini berjarak sekira 165 kilometer dari Kota Makassar.

Suku Kajang termasuk suku tertua di Indonesia yang masih eksis di tengah gempuran modernisasi dengan tetap mempertahankan budaya dan tradisinya. Suku ini bahkan menolak segala bentuk modernisasi dalam aktivitas kesehariannya. Antara lain tidak menggunakan listrik, alat transportasi, tidak memakai sandal dan sepatu, menolak penggunaan alat elektronik dan lainnya.

Penanda utama dari suku ini adalah penggunaan warna hitam pada pakaiannya serta menolak warna mencolok. Aturan ketat diberlakukan khususnya di Kawasan Adat Kajang (Kajang lalang).

Kawasan Adat kajang atau kajang lalang, biasa pula disebut lalang bata.  Kawasan ini benar-benar tertutup, dimana para tamu harus mematuhi aturan dan budaya setempat bila ingin berkunjung atau bertemu dengan kepala suku bernama Ammatowa.

Suku Kajang dikenal memiliki model pelestarian lingkungan yang baik karena menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan sistem kepercayaannya. Simak penjelasannya berikut:

[irp]

Konsep Tomanurung, “Possi tanah” dan Istilah ‘Kajang’

Seperti halnya mitos asal-usul raja di sejumlah kerajaan di Sulawesi Selatan, Komunitas Adat Kajang juga menyimpan mitos mengenai manusia pertama yang  turun ke bumi. Suku Kajang meyakini bahwa manusia pertama yang ada hutan adat Tana Towa bernama Bohe Amma (Ammatowa). Kehadirannya di bumi tidak jauh beda dengan konsep tomanurung atau tu’manurung atau kamase-maseya.

Kemunculan manusia pertama di Kajang sangat erat kaitannya dengan penanda yang disebut “possi tanaya” (pusar tanah). Di sinilah tempat tinggal manusia pertama (pa’rasangang), manusia pertama yang juga diyakini sebagai tumanurung.

Tak lama setelah  kedatangan tumanurung, dikisahkan bahwa ia menghilang atau dalam bahasa Konjo disebut assajang. Sebelum assajang, ia melahirkan 5 orang anak. 4 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Kelima bersaudara tersebut bernama Dalonjo ri Balagana, Dangempa ri Tuli, Damangungsalam ri Balambina, Dakodo ri Sobbu dan Tumutung ri Benteng atau Bohe Tutowa.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: