Kearifan Lokal Suku Kajang dalam Melestarikan Hutan

oleh -23 kali dilihat

Klikhijau.com – Masyarakat di Sulawesi Selatan sudah tidak asing lagi dengan Suku Kajang. Pakaian serba hitam menjadi ciri khas suku ini, bahkan mitos yang berkembang di masyarakat sering mengidentikkan suku Kajang dengan kekuatan ilmu supranaturalnya.

Suku ini terletak di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba (Sulawesi Selatan). Suku Kajang sendiri masuk di wilayah administrasi Desa Tana Toa dengan luas wilayah 729 Ha.

Dalam melaksanakan ajarannya, masyarakat adat suku Kajang berpegang pada pasang yang diturunkan oleh Turiearakna (Tuhan).

Terkait dengan kearifan Suku Kajang dalam menjaga kelestarian hutan sampai hari ini tidak terlepas dengan prinsip tallasa kamase-mase yang mereka jalankan.

Tallasa kamase-mase sendiri adalah suatu pasang yang mengajarkan masyarakat adat Ammatoa atau Suku Kajang untuk berperilaku dan menjalankan hidup secara sederhana dalam kesehariannya sehingga keinginan untuk hidup berlebih-lebihan dalam mengambil hasil hutan dapat dihindari.

KLIK INI:  Hutan Muda dan Kontribusi Besarnya dalam Menyerap Karbon

Selain ajaran kamase-masea, masyarakat adat Kajang juga memiliki mekanisme lain untuk menjaga kelestarian hutan mereka, yaitu dengan cara menetapkan kawasan hutan menjadi tiga bagian di mana setiap bagian memiliki fungsi dan makna yang berbeda bagi masyarakat adat.

Ketetapan ini langsung dibuat oleh Ammatoa. Kawasan yang pertama adalah Borong Karamaka atau hutan keramat, yaitu kawasan hutan yang terlarang untuk semua jenis kegiatan, kecuali upacara-upacara adat. Kawasan ini harus steril dari kegiatan penebangan, pengukuran luas, penanaman pohon, pemanfaatan flora dan fauna yang ada di dalamnya, atau pun kunjungan selain pelaksanaan upacara adat.

Kawasan borong karamaka ini begitu sakral bagi masyarakat Kajang karena adanya keyakinan bahwa hutan ini adalah tempat tinggal para leluhur orang Kajang.

Hal ini diungkapkan secara jelas dalam sebuah pasang, yaitu: Talakullei nisambei kajuaIyato minjo kaju timboa. Talakullei nitambai nanikurangi borong karamaka. Kasipalli tauwa alamung-lamung ri boronga, Nasaba sere wattu la rie tau angngakui bate lamunna (Artinya: Tidak bisa diganti kayunya, itu saja kayu yang tumbuh. Tidak bisa ditambah atau dikurangi hutan keramat itu. Orang dilarang menanam di dalam hutan sebab suatu waktu akan ada orang yang mengakui bekas tanamannya.

KLIK INI:  26 Profesor Bertemu Menteri LHK Bahas Penataan Pemukiman Masyarakat di Kawasan Hutan

Kawasan yang kedua adalah Borong Batasayya atau hutan perbatasan. Hutan ini merupakan hutan yang diperbolehkan diambil kayunya sepanjang persediaan kayu masih ada dan dengan seizin dari Ammatoa selaku pemimpin adat.

Jadi keputusan akhir boleh tidaknya masyarakat mengambil kayu di hutan ini tergantung dari Ammatoa. Pun kayu yang ada dalam hutan ini hanya diperbolehkan untuk membangun sarana umum, dan bagi komunitas Ammatoa yang tidak mampu membangun rumah. Selain dari tujuan itu, tidak akan diizinkan.

Namun, tidak semua kayu boleh ditebang. Hanya beberapa jenis kayu saja yang boleh ditebang, yaitu kayu Asa, Nyatoh, dan Pangi. Jumlah kayu yang ditebang pun harus sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak jarang kayu yang ditebang akan dikurangi oleh Ammatoa.

Syarat utama ketika orang ingin menebang pohon adalah orang yang bersangkutan wajib menanam pohon sebagai penggantinya. Kalau pohon itu sudah tumbuh dengan baik, maka penebangan pohon baru dapat dilakukan.

Menebang satu jenis pohon, maka orang yang bersangkutan wajib menanam dua pohon yang sejenis di lokasi yang telah ditentukan oleh Ammatoa. Penebangan pohon itu juga hanya boleh dilakukan dengan menggunakan alat tradisional berupa kampak atau parang.

KLIK INI:  Tyas, Perempuan yang Bertarung Menyelamatkan Hutan di Sumatera dan Kalimantan

Cara mengeluarkan kayu yang sudah ditebang juga harus dengan cara digotong atau dipanggul dan tidak boleh ditarik karena dapat merusak tumbuhan lain yang berada di sekitarnya.

Masyarakat suku Kajang mempercayakan setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan kepada seorang ketua adat yang bergelar Ammatoa. Ammatoa dan masyarakat suku Kajang menerapkan sanksi dan aturan yang keras bagi masyarakatnya yang melanggar aturan.

Suku Kajang sampai saat ini masih memegang teguh adat dan nilai-nilai yang berlaku dalam komunitas Ammatoa. Ammatoa memiliki tugas mempunyai tugas untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan adat istiadat beserta nilai-nilai yang berlaku di dalam komunitas adat Desa Tana Toa.

Agar ketiga kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh masyarakat Suku Kajang tetap mampu memerankan fungsinya masing-masing, Ammatoa akan memberikan sangsi kepada siapapun yang melanggar ketentuan yang telah dibuatnya itu.

Sanksi yang diberikan tidaklah sama, tergantung di kawasan hutan mana orang yang bersangkutan melakukan pelanggaran. Pelanggaran yang dilakukan di hutan keramat akan mendapatkan sanksi yang paling berat.

KLIK INI:  Ekofeminisme, Tentang Relasi Gender dan Kehutanan

KLIK Pilihan