Jati Belanda Ibu

Belantara   Kau tak harus kabur dulu ke belantara Cari sejuk dan hijau dedaunan Atau ke sela-sela bayangmu Agar dapat menjauh dari hiruk pikuk ibu kota Juga terang lampu jalan yang berlar...

Jati Belanda Ibu
Bacakan Artikel

Awan mengirimkan isyarat Dhuha
Yang hanyutkan aku pada harumnya
Kuhamparkan namaMu sebagai sajadah
Menjadi mihrab dalam nadiku

Nama ibu yang mulai dilupa musim
Seperti gerutu hujan yang tak tega turun
Lama aku tersesat dalam belantara hidup
Menjelma air terjun yang tak lelah jatuh

Lalu mengalir jauh ke laut
Membawa sampah-sampah dari gunung

2023


Jati Belanda Ibu


 

Hajatan dimana-mana
Piring, gelas dan aroma-aroma sedap berlalu-lalang dalam kepala

Di sudut rumah kau terduduk berkawan sepi
Sesekali menengok daun mangga yang ranggas di pekarangan
Rasa lapar tak mampu menahan kau lebih lama

Berkali-kali kau meraih dompet
Memastikan isi amplop yang akan kau bawa
Namun tak ada serupiahpun di dalam sana
Bertahun sudah
Kekosongan yang memenjarakanmu lebih sering dari kematian
Bertandang menjadi seonggok dompet kosong
Sejak hutan jati Belanda
Di belakang rumahmu dibabat habis penguasa

Jati Belanda itu warisan ibu
Menyimpan banyak cericit burung
Suara serangga
Dan menahan air hujan tak sampai ke dapur

Lalu penguasa datang membabatnya
Menjadikannya jalanan, rumah, dan jembatan menuju maut

2023


Erosi Hati Musim


 

Selimut kemarau telah lebih dahulu bertandang
Membawa kabar tentang hujan yang tak jua kunjung
Sungai dan pemburu itu masih saja setia bercerita Tentang apa yang paling ia sukai sampai bergantilah musim.
Hujan datang tak pelan—sungai meluap-luap seperti hati-hati yang berperang
Maka itu ia ditugaskan datang
Maka banjir kali ini akan lama; mengusir--menggusur emosi.

Watansoppeng, 2015

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2