Inovasi Dosen UMI: Mesin Pemeras santan dan Pemanfaatan Limbah Ampas Kelapa untuk Meningkatkan Ekonomi PKK Bontolangkasa Gowa

oleh -142 kali dilihat
Pemberdayaan Ekonomi Mandiri Masyarakat Desa Bontolangkasa Melalui Pembinaan Kelompok PKK dengan Pelatihan Pengolahan Kelapa Terintegrasi dan Pemanfaatan Limbah Ampas Kelaspa (Foto: Ist)

Klikhijau.com – Kepala Desa Bontolangkasa Utara Muh. Ridwan menyambut Tim PKM Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar yang melakukan pengabdian yang bertajuk “Pemberdayaan Ekonomi Mandiri Masyarakat Desa Bontolangkasa Melalui Pembinaan Kelompok PKK dengan Pelatihan Pengolahan Kelapa Terintegrasi dan Pemanfaatan Limbah Ampas Kelaspa” berlangsung di Aula Kantor Desa Bontolangkasa, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin 4 Agustus 2025.

Muh Ridwan mengapresiasi tim PKM UMI yang memilih desanya sebagai lokasi kegiatn, ia mengatakan kalau ini yang pertama kali tim ini ada di sini tolong kalau ada kegiatan semacam ini tolong ingat Desa Bontolangkasa, kami menunggu dan selalu terbuka.

“Jadi ibu ibu yang hadir pada kesempatan ini, ayo maksimalkan kegiatan ini karena selain ada penjelasan tentang pemanfaatannya juga ada alat yang akan dipraktekkan langsung,” ujar Ridwan.

KLIK INI:  3 Cara Menggunakan Hand Sanitizer Agar Lebih Efektif

Tim PKM UMI yang terdiri dari lintas jurusan memilih PKK Bontolangkasa sebagai mitra dampingan yang didukung penuh oleh Hibah PKM DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) 2025, yang tidak sekadar pelatihan namun juga menghibahkan 1 unit mesin parut kelapa terintegrasi dengan pemeras santan dan 1 unit mesin penepung ampas kelapa.

Kegiatan ini dipandu oleh Mahmuddin yang menggugah semangat para ibu ibu yang juga telah menanti kegiatan tersebut.

Ketua Tim PKM UMI, Gusnawati mengatakan beberapa bulan sebelumnya telah melakukan kunjungan observasi, dari hasil kunjungan itulah sehingga muncul inisiatif untuk memilih limbah ampas kelapa untuk dimanfaatkan, mengingat beberapa hasil kajian juga, produk ampas kelapa memiliki banyak keunggulan termasuk kategori bahan yang memiliki banyak gizi.

“Selain itu juga ada potensi ekonomi yang dapat dikembangkan oleh ibu-ibu, karena misalnya dari ampas jadi tepung itu paling minimal dapat digunakan untuk keperluan pribadi, dan ini bahkan sangat mungkin untuk dikembangkan sebagai salah satu produk UMKM , dan itu juga yang menjadi alas an kuat kami melaksanakan kegiatan ini,” jelas Gusna yang merupakan pengajar Teknik Kimia FTI UMI.

KLIK INI:  Aksi Unik Selamatkan Bumi dengan Cabut Paku di Pohon

Tepung ampas kelapa adalah produk inovatif yang dibuat dari sisa parutan kelapa setelah santannya diperas. Meskipun sering dianggap limbah, ampas kelapa ini memiliki potensi besar yang diolah menjadi tepung serbaguna dengan berbagai keunggulan nutrisi dan fungsional.

“Jadi produk ini memiliki banyak keunggulan, mulai dari keunggulan nutrisi tinggi protein dan rendah karbohidrat, keunggulan dan pengaplikasian hingga dampak lingkungan dan ekonomi,” pungkasnya.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Desa Bontolangkasa – Gowa dengan membantu pemberdayaan dan perekonomian masyarakat melalui pengembangan usaha parut kelapa yang berbasis teknologi mesin multifungsi menjadi santan.

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam memanfaatkan limbah ampas kelapa yang terbuang pasca pemerasan santan karena dapat diolah menjadi tepung ampas kelapa bernilai gizi tinggi, serta mendorong kegiatan ekonomi kreatif masyarakat Desa Bontolangkasa – Gowa, melalui pengembangan pengolahan limbah ampas kelapa menjadi tepung yang dapat diperjual belikan.

Kegiatan yang dikemas santai, ini juga mengulas kiat manajemen pemasaran agar produk yang dihasilakn bias dipasarkan lebih luas, hal ini disampaikan oleh anggota tim, Nurina Saffanah, secara sederhana menguraikan produk yang dihasilkan dan dikembangkan memerlukan beberapa langkah, salah satunya bagaimana produknya dikemas dengan rapi agar tampak menarik.

“Jadi kemasan produk kita perlu identitas misalnya logo, dan diisi beberapa keterangan pendukung seperti keunggulan produk dan darimana produk itu, sehingga konsumen kita atau pembeli yang memilih produk kita itu bias yakin,” jelas dosen ekonomi ini.

KLIK INI:  Jelang COP 30, Indonesia Harus Siap Pimpin Agenda Iklim Global

Demo penggunaan alat juga diikuti penuh antusias oleh masyarakat yang juga dipandu oleh Mahmuddin yang menjelaskan tahap penggunaan mesin secara langsung dengan memperhatikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), ia mengatakan dalam mengoperasikan yang namanya mesin perlu kehati-hatian sehingga pengguna selamat dan mesin tetap awet.

“Jadi alat ini setelah digunakan perlu untuk segera dibersihkan agar tidak berkarat, juga untuk menjamin mutu higienis baik santan dan ampas yang akan diolah menjadi tepung,” jelasnya.

Mahmuddin bersama Ibu PKK melakukan demo mesin parut kelapa terintegrasi dengan pemeras santan. (Foto: Ist)

Hj Hamdana, Ketua PKK Bonto Langkasa Utara, Kecamatan Bontonompo, mengatakan selama ini ampas kelapa itu dibuang begitu saja.

“Kegiatan ini bikin kita jadi tau kalau ternyata itu berguna dan bahkan berkualitas, semoga ini bisa terus berkelanjutan, terimakasih sudah memilih mendampingi kami,” jelasnya.

Minarni, salah satu dari PKK, mengemukakan kalau dirinya cukup rutin menggunakan kelapa yang ampasnya dibuang begitu saja.

“Kadang hamper tiap hari dan minimal 3 buah kelapa, itukan kalau tiap hari jadinya banyak dan selama ini saya buang saja, ini saya ambil contoh tepungnya nanti saya mau coba di rumah, dana akan mulai memanfaatkan ini ampas kelapa jadi tepung Karena ternyata juga bagus untuk bahan kue,” ujarnya

Kelompok ibu-ibu PKK Bontolangkasa Selatan memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian keluarga melalui kegiatan produktif.

Namun, saat ini hanya sebagian kecil anggota (10%) yang terlibat dalam kegiatan produktif.
Oleh karena itu, edukasi dan pengenalan teknologi tepat guna, seperti alat mesin modern parut kelapa terintegrasi dengan pemeras santan, dapat menjadi solusi untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan mengembangkan usaha mandiri yang berkelanjutan.

Dengan demikian, kegiatan ini dan dukungan alat dapat memberdayakan masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup keluarga di Desa Bontolangkasa.

Penyerahan 1 unit mesin parut kelapa terintegrasi dengan pemeras santan dan 1 unit mesin penepung ampas kelapa, dari Ketua Tim PKM, Gusnawati kepada Ketua PKK Bontolangkasa, Hj. Hamdana (Foto: Ist)
KLIK INI:  Perkuat Budaya Maritim, Festival Kelapa akan Digelar di Kepulauan Selayar

Mitra PKM mendapatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pendampingan dan pelatihan pengolahan limbah ampas kelapa menjadi tepung dengan menggunakan teknologi mesin penepung yang difasilitasi oleh tim PKM. Dengan demikian, masyarakat desa Bontolangkasa dapat meningkatkan nilai ekonomi limbah dan mengembangkan usaha yang berkelanjutan.

Sekadar diketahui tim pelaksana PKM yang didukung penuh Hibah DPPM Kemdiktisainte diketuai oleh Ir. Gusnawati, S.T., M.T (Teknik Kimia, FTI-UMI), yang beranggotakan Nurina Saffanah, S.E., M.Sc (Ekonomi Akuntansi, FE-UMI), Dr. Ir. Mahmuddin, S.T., M.T (Teknik Mesin FTI-UMI).

Melibatkan dua mahasiswa , Andi Tenri Awaru (Teknik Kimia, FTI-UMI) dan Dimas Mustakim (Teknik Kimia, FTI-UMI), yang berpartisipasi dalam kegiatan PKM di Bontolangkasa, menunjukkan dedikasi n kreativitas mereka dalam membantu masyarakat. Dengan mengoperasikan mesin parut kelapa terintegrasi dan mesin pemeras santan, keduanya membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas kelompok PKK setempat. Selain itu, mereka juga memberikan pelatihan tentang cara pengolahan limbah ampas kelapa menjadi tepung free gluten, yang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa mahasiswa Teknik Kimia UMI tidak hanya memiliki kemampuan akademis yang baik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi