Hari Lingkungan Hidup dan Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang Terbengkalai

Klikhijau.com – Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini akan diperingati secara virtual akibat pandemi Covid-19. Kementeria...

Hari Lingkungan Hidup dan Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang Terbengkalai
Bacakan Artikel

Sebanyak 2 dari 5 penduduk dunia tidak memiliki fasilitas cuci tangan yang layak menggunakan air dan sabun. Ini tentu akan mengerikan bila ada situasi pandemi seperti saat ini. Data lain menunjukkan, masih adanya sekitar 673 juta orang masih BAB di ruang terbuka, mayoritas adalah penduduk di Asia Selatan. Lebih mengerikan lagi, ada700 juta penduduk di bumi terancam mengungsi akibat kekurangan air ekstrem.



  • Menyediakan Energi yang Bersih dan Terjangkau



Walau 90% penduduk dunia sudah memiliki akses ke energi listrik, tidak semua wilayah bisa terjangkau jaringan listrik dan hidup 24 jam sehari seperti yang sekarang Anda nikmati. Peluang terbesar untuk menyediakan listrik bagi mereka adalah dengan menggunakan energi baru dan terbarukan. Namun EBT baru menyumbang 17,5% total konsumsi energi dunia. Masih ada 3 miliar penduduk bumi yang tidak memiliki akses ke energi yang bersih untuk memasak.


  • Mewujudkan Pola Konsumsi Berkelanjutan



Tidak bisa dipungkiri bahwa eksploitasi sumber daya alam terus berlangsung yang mengakibatkan adanya penurunan sumebr daya. Dunia menggunakan 92 milyar ton bahan baku pada 2017 naik dari 54 miliar ton pada tahun 2000 dan diperkirakan akan terus naik ke 190 miliar ton bahan baku pada 2060.

Saat ini ada 100 negara yang aktif mempromosikan pola konsumsi dan produksi yang ramah alam, namun tren “pemborosan yang berkelanjutan” masih tercermin dari data di atas. Bisa dibayangkan, ada pemborosan makanan di sejumlah Negara tetapi ada ancama kelaparan di Negara yang lain.


  • Aksi Iklim


Data ilmiah menunjukkan suhu bumi telah meningkat 1°Celcius di atas suhu bumi sebelum revolusi industri. Walau 186 negara sudah meratifikasi Perjanjian Paris/Kesepakatan Paris, aksi mereka memangkas emisi gas rumah kaca – pemicu pemanasan global, masih gagal memenuhi target.

Krisis iklim telah mencabut 1,3 miliar nyawa dalam periode 1998-2017. Untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C, konsentrasi emisi karbon di bumi harus dipangkas 55% dari level tahun 2010 pada 2030 atau 10 tahun lagi. Setelah itu diharapkan dunia berhenti menghasilkan polusi iklim (zero net emissions) pada 2050.



  • Menyelamatkan Kehidupan di Air



Data menunjukkan adanya kenaikan tingkat keasaam air laut telah sekitar 26% sejak masa sebelum revolusi industri di abad ke-18. Tingkat keasaam air laut ini diperkirakan akan terus naik antara 100-150% hingga 2100. Hal ini terjadi walau dunia telah melipatgandakan wilayah perairan negara yang dilindungi menjadi 17% dari level 2010. Pemicunya antara lain karena laut menyerap 90 persen konsentrasi karbon dioksida di atmosfer memicu peningkatan keasaman air laut.

  • Menyelamatkan Kehidupan di Darat


Laju kerusakan alam di darat terus meluas setiap tahunnya dan ini tentu mengancam keberlanjutan. Ribuan spesies terancam punah akibat habitatnya yang rusak (sebagian besar karena sengaja dirusak) oleh manusia.

Degradasi lahan terus terjadi dengan luas mencapai 20% wilayah bumi. Sebanyak 1 miliar penduduk dunia merasakan dampak degradasi lahan ini. Semua ini terjadi saat luas wilayah yang dilindungi terus naik.

Wilayah daratan (terrestrial areas) yang dilindungi naik 39% dalam periode 2000-2018. Sementara luas wilayah air tawar dan pegunungan yang dilindungi meningkat 42% dan 36% pada periode yang sama. Sehingga, pertanyaan masih mengemuka soal efektivitas pengelolaan kawasan-kawasan lindung ini.



  • Kerjasama untuk Mencapai Semua Target Tersebut



Gagalnya pencapaian target-target SDGs di atas rupanya juga tercermin dari kinerja target SDGs yang terakhir ini. Kegagalan ini ikut diperburuk oleh menurunnya jumlah bantuan Negara-negara maju untuk Negara miskin hingga 3 persen di tahun 2018 dari tahun sebelumnya.

Oleh sebab itu, dim omen hari lingkungan hidup ini, semua pihak harus memikirkan ulang mengenai agenda pembangunan berkelanjutan yang terbengkalai. Lalu, berkolaborasi kembali menempu jalan perbaikan untuk bumi yang tetap lestari.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2