Festival Pinisi: Merayakan Kapal, Merawat Pengetahuan, Memberi Ruang bagi Para Panrita

Festival Pinisi: Merayakan Kapal, Merawat Pengetahuan, Memberi Ruang bagi Para Panrita
Festival Pinisi 2026-foto/Ist
Bacakan Artikel
Basmawati Haris

Pengasuh Ruang Bertumbuh Indonesia dan pegiat literasi

Basmawati Haris

Artikel terbaru dari Basmawati Haris (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Ruang berbagi pengetahuan

Festival Pinisi dapat menjadi ruang bagi para panrita untuk berbagi pengetahuan, berdialog dengan generasi muda, serta menyampaikan tantangan yang mereka hadapi dalam mempertahankan tradisi pembuatan kapal. Bahkan, mereka dapat dilibatkan sejak tahap perencanaan festival agar agenda yang disusun tidak hanya menarik bagi pengunjung, tetapi juga bermakna bagi para pelaku kebudayaan itu sendiri.

Di sinilah pentingnya membedakan antara mempromosikan kebudayaan dan merawat kebudayaan. Promosi membuat orang mengenal Pinisi, sedangkan perawatan memastikan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan orang-orang yang menjaganya tetap memiliki tempat untuk tumbuh. Keduanya sama-sama penting. Namun, promosi yang tidak disertai upaya pelestarian berisiko membuat kita hanya merayakan hasil akhirnya, sementara proses yang melahirkannya perlahan kehilangan penerus.

Persoalan regenerasi menjadi salah satu hal yang patut mendapat perhatian. Siapa yang akan membuat Pinisi dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang jika semakin sedikit generasi muda yang mengenal proses pembuatannya? Bagaimana pengetahuan para panrita akan bertahan apabila tidak ada ruang yang cukup untuk belajar, berlatih, dan meneruskan keterampilan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban yang tidak sederhana. Regenerasi bukan hanya soal mengajak anak muda mencintai budaya, tetapi juga memastikan adanya kesempatan untuk mempelajarinya, memperoleh pengalaman langsung, serta melihat bahwa keterampilan tradisional memiliki nilai dan masa depan. Festival dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mewujudkannya, melalui lokakarya, program belajar bersama panrita, dokumentasi pengetahuan tradisional, dan kemitraan dengan sekolah maupun komunitas.

Di sisi lain, keberlanjutan Pinisi juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan para pembuatnya. Pelestarian kebudayaan semestinya memberi perhatian pada keberlanjutan mata pencaharian, ketersediaan bahan baku, ruang kerja, dan berbagai tantangan yang dihadapi para pelaku pembuatan kapal. Jika Pinisi ingin terus hidup sebagai tradisi, maka ekosistem yang menopangnya juga perlu dirawat.

Karena itu, Festival Pinisi dapat menjadi momentum untuk mempertemukan para panrita, pemerintah daerah, komunitas budaya, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membicarakan masa depan Pinisi. Tidak hanya tentang bagaimana menjadikannya daya tarik wisata, tetapi juga bagaimana membangun langkah nyata untuk menjaga pengetahuan dan keberlangsungan pembuatannya.

Tentu, tidak semua persoalan tersebut harus diselesaikan dalam satu festival. Namun, festival dapat menjadi titik awal untuk membangun program yang berkelanjutan. Misalnya, mendokumentasikan cerita dan teknik para panrita, menyusun program pewarisan keterampilan bagi generasi muda, menghadirkan pameran tahapan pembuatan kapal, serta membuka ruang diskusi mengenai tantangan pelestarian Pinisi. Yang tidak kalah penting, perlu ada tindak lanjut setelah festival berakhir, sehingga perayaan tidak berhenti sebagai agenda tahunan.

Kebudayaan tidak cukup hanya dikenang

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan festival tidak semestinya hanya dilihat dari kemeriahan acara, jumlah pengunjung, atau banyaknya perhatian yang diperoleh. Kita juga perlu bertanya: pengetahuan apa yang berhasil diwariskan? Berapa banyak generasi muda yang memperoleh kesempatan belajar? Seberapa besar ruang yang diberikan kepada para panrita? Dan apa yang tetap berjalan ketika panggung festival telah dibongkar?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk ketidakpuasan terhadap kerja-kerja yang telah dilakukan. Sebaliknya, ini merupakan ajakan agar upaya yang sudah ada dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas.

Bulukumba memiliki alasan yang kuat untuk bangga terhadap Pinisi. Namun, kebanggaan itu akan semakin bermakna apabila tidak hanya diwujudkan melalui perayaan, melainkan juga melalui tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungannya. Pinisi bukan hanya warisan yang patut diperlihatkan kepada dunia, tetapi juga pengetahuan yang perlu dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jangan sampai suatu hari nanti kita masih mampu menyelenggarakan Festival Pinisi dengan meriah, tetapi justru kesulitan menemukan orang-orang yang mewarisi keterampilan untuk membuatnya. Jangan sampai kita berhasil mempertahankan nama besar Pinisi, tetapi kehilangan sebagian pengetahuan yang menjadi jiwa di baliknya.

Sebab, kebudayaan tidak cukup hanya dikenang, dipamerkan, dan dirayakan. Kebudayaan harus terus dihidupkan melalui manusia yang menjaganya dan generasi yang bersedia meneruskannya.

Jika Pinisi adalah kebanggaan Bulukumba, maka merawat para panrita dan pengetahuan mereka adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama.

Sudah saatnya Festival Pinisi tidak hanya menjadi panggung untuk menyaksikan kapal yang berlayar, tetapi juga ruang untuk memahami perjalanan panjang yang membuatnya tercipta. Bukan sekadar perayaan atas warisan masa lalu, melainkan ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa warisan itu tetap memiliki masa depan.

Sebab, pada akhirnya, yang perlu kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya cerita tentang betapa hebatnya Pinisi, tetapi juga kesempatan bagi mereka untuk memahami, mempelajari, dan meneruskan pengetahuan yang membuat Pinisi tetap hidup.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi