Festival Pinisi: Merayakan Kapal, Merawat Pengetahuan, Memberi Ruang bagi Para Panrita

Festival Pinisi: Merayakan Kapal, Merawat Pengetahuan, Memberi Ruang bagi Para Panrita
Festival Pinisi 2026-foto/Ist
Bacakan Artikel
Basmawati Haris

Pengasuh Ruang Bertumbuh Indonesia dan pegiat literasi

Basmawati Haris

Artikel terbaru dari Basmawati Haris (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com - Jangan sampai kita begitu sibuk merayakan Pinisi sebagai kebanggaan Bulukumba, tetapi lupa memastikan pengetahuan yang melahirkannya tetap hidup.

Pinisi bukan sekadar kapal kayu yang gagah ketika membelah lautan. Ia adalah warisan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kearifan yang tumbuh melalui perjalanan panjang masyarakat pesisir, khususnya para panrita lopi di Bulukumba. Di balik bentuknya yang megah, ada tangan-tangan terampil, ketekunan, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, ketika Festival Pinisi kembali diselenggarakan, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak kita renungkan bersama: sudahkah festival ini benar-benar menjadi ruang untuk merawat kebudayaan, atau masih lebih banyak menjadi ruang untuk merayakan simbol kebudayaan?

Pertanyaan ini bukan untuk meniadakan nilai anyyorong lopi, yakni prosesi penurunan kapal ke laut, yang selama ini menjadi salah satu agenda penting dalam perayaan Pinisi. Prosesi tersebut memiliki makna tersendiri dan patut dihargai sebagai bagian dari tradisi. Namun, jika Festival Pinisi terus berpusat pada agenda yang sama dari tahun ke tahun, bukankah ada peluang yang lebih besar untuk memperluas makna perayaan ini?

Sebab, Pinisi tidak lahir hanya pada saat sebuah kapal diturunkan ke laut. Jauh sebelum momen itu, ada proses panjang yang patut dikenali dan dipahami: mulai dari pemilihan pohon dan pengetahuan tentang kayu, proses pengolahan bahan, teknik menyusun bagian-bagian kapal, hingga keterampilan dan pengalaman yang membuat sebuah kapal dapat terwujud. Di dalam proses tersebut, terdapat pengetahuan yang tidak selalu bisa dijelaskan melalui tulisan, tetapi hidup dalam praktik dan pengalaman para panrita.

Lantas, mengapa proses panjang itu belum menjadi bagian yang lebih menonjol dalam pengalaman publik saat menghadiri Festival Pinisi?

Saya membayangkan sebuah festival yang tidak hanya mengundang orang untuk menyaksikan kapal yang telah selesai dibuat, tetapi juga mengajak mereka memahami bagaimana kapal itu dilahirkan. Sebuah festival yang menghadirkan ruang belajar bersama, tempat masyarakat, pelajar, generasi muda, peneliti, dan wisatawan dapat mendengarkan langsung cerita para panrita, melihat demonstrasi teknik pembuatan kapal, serta memahami nilai-nilai yang menyertai setiap tahap pengerjaannya.

Dengan demikian, pengunjung tidak hanya pulang membawa foto dan kenangan, tetapi juga membawa pengetahuan dan penghargaan yang lebih dalam terhadap kebudayaan Pinisi.

Sudah saatnya para panrita tidak hanya menjadi bagian dari festival, tetapi memperoleh ruang utama sebagai pemilik pengetahuan dan pelaku kebudayaan yang sesungguhnya.

Merekalah yang memahami prosesnya, menguasai keterampilannya, dan menjaga keberlangsungannya. Oleh karena itu, keterlibatan para panrita semestinya tidak berhenti pada kehadiran dalam seremoni atau penampilan hasil karya. Suara dan pengalaman mereka penting dalam menentukan bagaimana Pinisi diperkenalkan, bagaimana pengetahuannya diwariskan, dan bagaimana tradisi ini dijaga agar tetap relevan pada masa mendatang.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi