Euforia Hari Lingkungan Hidup di Tengah Ancaman Praktik SLAPP terhadap Aktivisme Lingkungan 

Klikhijau.com - Setiap tanggal 5 Juni, masyarakat dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Di berbagai daerah, perayaan ini diramaikan dengan penanaman pohon, pawai hijau, lomba daur ulang, h...

Euforia Hari Lingkungan Hidup di Tengah Ancaman Praktik SLAPP terhadap Aktivisme Lingkungan 
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Setiap tanggal 5 Juni, masyarakat dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Di berbagai daerah, perayaan ini diramaikan dengan penanaman pohon, pawai hijau, lomba daur ulang, hingga kampanye digital bertagar ramah lingkungan. Semangat untuk menjaga bumi seolah menemukan momentumnya—diperkuat narasi kolektif akan pentingnya keberlanjutan.

Namun euforia Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini nampak terasa jauh lebih getir. Di tengah narasi perlindungan lingkungan yang disuarakan di balik mimbar pidato kekuasaan, di lapangan—di desa-desa, hutan adat, dan wilayah tambang—para pejuang lingkungan hidup terus dihantui ancaman, kekerasan bahkan kriminalisasi.

Dikutip dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), selama satu dekade terakhir tercatat 1.131 orang mengalami kekerasan dan kriminalisasi karena memperjuangkan hak mereka atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Dari data tersebut, 544 orang berlanjut ke meja hijau. Sungguh ironi, karena bagaimanapun ini bukan soal angka yang dapat ditempatkan sebagai statistik laporan biasa: ia adalah rekam suram bagaimana suara-suara yang berupaya mempertahankan kelestarian “dilenyapkan” atas nama investasi, keamanan dan pembangunan.

Siklus kriminalisasi aktivis lingkungan bukanlah gejala baru. Pada 2014, tercatat 44 kasus. Jumlah itu mengalami eskalasi signifikan menjadi 208 kasus pada 2017, kemudian cukup menurun menjadi 54 kasus pada tahun 2019. Tak berhenti, fenomena serupa masih berulang: pada 2022 tercatat 237 kasus, lalu turun menjadi 34 kasus pada 2024.

[irp]

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: