Energi Penyelamat Bumi itu Bernama Mangrove, Teruslah Menjaganya!

Klikhijau.com – Mangrove dan ekosistem di dalamnya punya peran strategis lebih dari sekadar penahan abrasi, tetapi juga dapat berdampak pada penyelamatan bumi dari krisis iklim. Belum lama ini, Vox...

Energi Penyelamat Bumi itu Bernama Mangrove, Teruslah Menjaganya!
Bacakan Artikel

Nilai ini tak hanya dari karbon saja, tapi juga dari dimensi lainnya yakni ekowisata, pencegah abrasi, dan industri potensi perikanan. Itu artinya, jika Indonesia dapat melestarikan kawasan bakaunya yang seluas 3,2 juta hektare, potensi ekonominya dapat mencapai Rp 4.000 triliun.

Haruni Krisnawati, dari Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi KLHK mengatakan bahwa laju pertumbuhan mangrove yang tinggi (3,6 ± 1,1 miligram karbon per hektare per tahun membuat ia menjadi ekosistem terkuat dalam menyimpan karbon.

Emisi yang terserap oleh daun, batang, dan ranting mangrove akan gugur dan terkubur dalam perairan sehingga karbon tak segera menguap ke atas atmosfer. Singkatnya, mangrove mampu menahan emisi sehingga memproteksi atmosfer agar tidak kotor. Nah, inilah yang membuat bakau dinamai sang penyemat bumi.

Dengan demikian, ekosistem mangrove patut dijaga dan dilestariakan agar dampak krisis iklim dapat diminimalkan. Sayangnya, di sejumlah daerah di Indonesia, kawasan mangrove juga terancam oleh banyak persoalan. Diantaranya alih fungsi lahan karena industri perikanan, perumahan dan lainnya.

Selain itu, penggunaan kayu bakau menjadi arang dan bahan baku kertas membuat penebangan massal sulit dibendung sehingga melepaskan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.

Rohani Ambo Rappe, guru besar Universitas Hasanuddin, menjelaskan bahwa kumpulan tumbuhan berbunga di bawah air laut itu menjadi penyerap karbon dari atmosfer sehingga menyediakan makanan berlimpah bagi ekosistem laut.

Karena itu, kata Rohani mitigasi padang lamun tak hanya memproteksi dari krisis iklim, tetapi juga mendorong keragaman hayati laut.

KLHK saat ini sedang mendorong penelitian yang lebih luas tentang blue carbon untuk dijadikan panduan para pengambil keputusan dalam memanfaatkannya.

Hal ini penting, mengingat sejauh ini karbon biru masih jarang jadi perbincangan publik. Berbeda halnya dengan potensi karbon hutan daratan yang memang masuk dalam satu skema pengurangan emisi melalui pencegahan deforestasi.

“Laut menyerap 93% panas matahari dibanding daratan sehingga mempengaruhi pola hujan, suhu, dan iklim regional,” kata Anastasia Rita Tisiana Dwi Kuswardani dari Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dalam sebuah diskusi virtual beberapa hari lalu.

Ayo terus menjaga dan melestarikan mangrove kita untuk keberlanjutan!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2