Energi Baru Terbarukan di Desa, Paradoks dalam Kepingan Harapan

Klikhijau.com โ€“ Energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan menggiurkan. EBT di sini merujuk pada sumber-sumber energi alternatif dan berkelanjutan (sustainabl...

Energi Baru Terbarukan di Desa, Paradoks dalam Kepingan Harapan
Bacakan Artikel

Dengan potensi itu, sejatinya sangat wajar bila Indonesia memiliki target tinggi dalam pemanfaatan EBT. Sebagaimana tertuang dalam rencana Umum Energi Nasional (RUEN), target penggunaan EBT di bauran energi nasional sebesar 23% di tahun 2025 dan 31% di tahun 2050.

Target ini setara dengan 45,2 GW pembangkit listrik EBT di tahun 2025, sisanya merupakan kontribusi dari biofuel, biomassa, biogas, dan coal bed methane.

Rintangan implementasi EBT

Rintangan di lapangan terkait penerapan energi baru terbarukan dan upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil tampaknya tidaklah ringan..

[irp]

Pada awal Agustus 2020 ini misalnya, didukung oleh Mongabay, Klikhijau melakukan liputan khusus untuk isu EBT di Sulawesi Selatan. Kami mengangkat objek pantauan yakni listrik terbarukan di Desa Bonto Tengnga, Kabupaten Sinjai.

Dalam pantauan kami, dusun kecil ini merupakan potret penerapan EBT berbasis energi air yang sukses berjalan, setidaknya dalam 5 tahun terakhir.

Sebelum kami memilih lokus liputan, kami juga memantau perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di beberapa kabupaten tetangga. Hasilnya mengejutkan, kebanyakan desa yang pernah menerapkan PLTMH mangkrak di tengah jalan.

Ada beberapa faktor yang menjadi kendala antara lain kerusakan alat hingga perawatannya yang tidak berjalan. Masalah pemeliharaan memang jadi kendala umum di berbagai tempat. Hal ini berkaitan dengan kelembagaan dan komitmen pengelola yang ada.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: