Ecoton Desak Australia Hentikan Pengiriman Sampah ke Indonesia

Klikhijau.com - Di tengah perundingan intensif sesi kelima Intergovernmental Negotiating Committee (INC-5.2) untuk Perjanjian Global tentang Plastik yang tengah berlangsung di Jenewa, Swiss hingga 14...

Ecoton Desak Australia Hentikan Pengiriman Sampah ke Indonesia
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Di tengah perundingan intensif sesi kelima Intergovernmental Negotiating Committee (INC-5.2) untuk Perjanjian Global tentang Plastik yang tengah berlangsung di Jenewa, Swiss hingga 14 Agustus 2025, dunia sedang berupaya menyusun kesepakatan untuk mengakhiri polusi plastik demi melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Namun, ironisnya, Indonesia justru masih menjadi sasaran kiriman sampah plastik dari Australia.

Ecoton menggelar aksi mendesak Australia untuk menghentikan pengiriman sampah ke Indonesia di depan gedung ESA Sampoerna (Konsulat Jenderal Australia) Surabaya. Penelitian Ecoton mengungkap sampah plastik Australia yang dikirim ke Indonesia menjadi ancaman besar bagi masyarakat dan menjadi beban penyakit di Indonesia.

Beragam fakta miris yang mengiringi kiriman sampah plastik ke Indonesia, di antaranya, australia telah mengirimkan sampah kertas (HS 4707)  dengan kontaminasi scrap plastik dengan total 2,7 miliar kilogram sejak tahun 2020 sampai tahun 2024 (5 tahun terakhir).

Rata-rata pertahun yang dikirimkan sejumlah 542 ribu ton per tahun. Dengan data proyeksi pada tahun 2045 diperkirakan mencapai sekitar 1,27 juta ton, jika tidak ada intervensi kebijakan volume kiriman sampah dari Australia bisa nyaris dua kali lipat dibanding tahun 2024.

Selain itu, Australia juga telah mengirimkan sampah plastik ke Indonesia sebanyak 22.333 ton sampah selama periode 2023-2024, naik 27,9% dari sebelumnya sebesar 16.100 ton sampah yang masuk.

Sampah plastik kiriman dari Australia memicu pencemaran dioksin di desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo desa Gedangrowo, Kecamatan Prambon Kabupaten Sidoarjo, dan Kecamatan Pagak Kabupaten Malang.

Lebih mirisnya lagi, Indonesia menanggung beban biaya dampak lingkungan terutama di kesehatan masyarakat, berdasarkan temuan mikroplastik oleh Ecoton, Wonjin University dan UNAIR dalam darah ditemukan 88 partikel/26 sampel, dan amnion sebanyak 107 partikel/11 sampel, dan urine sebanyak 52 partikel/9 sampel.

Dampak lain yang ditimbulkan kiriman sampah dari Australia, yakni paparan mikroplastik  dari sampah tersebut memperburuk tersebut ketimpangan kesehatan dengan dampak yang lebih besar pada bayi dan anak-anak. Rata-rata paparan harian mikroplastik pada bayi usia 0–6 bulan diperkirakan sebesar 49 ± 32 partikel per hari, dengan paparan tertinggi terjadi pada usia 3–4 bulan 54 ± 38 partikel per hari (Kadac-Czapska et al., 2024)

Mikroplastik dari Sampah Australia Ancam Kesehatan Bayi Jawa Timur

Selama lima tahun terakhir, Australia telah menjadi negara yang sangat aktif dalam mengirimkan sampah (HS Code 4707) dengan kontaminasi scrap plastik ke Indonesia, sebanyak 2.713.206.050 kg (2020-2024), lalu disusul oleh USA, Italia, UK, Belanda. Sementara, untuk pengiriman sampah plastik (HS 3915) Australia telah mengirimkan sampah plastik ke Indonesia sebanyak 22.333 ton sampah selama periode 2023-2024, naik 27,9% dari sebelumnya sebesar 16.100 ton sampah yang masuk.

Pengiriman sampah ini mengkhawatirkan, karena berpotensi menambah beban kontaminasi mikroplastik di Indonesia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mikroplastik kini ditemukan dalam mekonium, yaitu tinja pertama bayi baru lahir. Ini menandakan bahwa paparan partikel plastik sudah dimulai sejak masa janin. Jenis polimer mikroplastik yang ditemukan mencakup PE, PP, PS, PA, PU, EVA (Mathew et al. 2025).

Penelitian Ecoton mengungkap sampah-sampah yang berakhir ke lingkungan dapat terpecah menjadi mikroplastik yang kemudian dapat menembus plasenta dan masuk ke cairan amnion, temuan ini didasari pada pengambilan sampel pada perempuan pemulung karena termasuk kelompok rentan yang terpapar sampah plastik. Hasilnya, pada darah ditemukan 88 partikel/26 sampel, dan amnion sebanyak 107 partikel/11 sampel, dan urine sebanyak 52 partikel/9 sampel.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2