Di Sebuah Kafe, Perdagangan Tulang Belulang Harimau Sumatera Terungkap

oleh -203 kali dilihat
Harimau Sumatera Serang Seorang Pekerja di Riau Hingga Tewas
Harimau sumatera/foto-Suara.com

Klikhijau.com – Di sebuah kafe, perdagangan bagian tubuh satwa dilindungi terungkap. Kafe itu terletak  di Nagari Ujung Gading, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat.

Ketika  menerima informasi dari masyarakat, bahwa akan ada transaksi bagian tubuh satwa dilindungi. Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat dan Satuan Reserse Kriminal Polres Pasaman Barat menuju kafe tersebut.

Setelah sampai di lokasi, ternyata informasi itu benar. Dan Berkat informasi tersebut terungkaplah  perbuatan tindak pidana perniagaan bagian-bagian tubuh satwa dilindungi.

Bagian tubuh itu bukan dari satwa sembarangan, tapi   rangka tulang satwa Panthera tigris sumatrae  atau harimau sumatera.

KLIK INI:  Operasi Penindakan Kejahatan Kehutanan Terus Digiatkan

Satwa ini merupakan satwa liar dilindungi. perlindungannya berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor 106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Selain itu harimau sumatera  masuk daftar satwa terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN)

80 tulang belulang diamankan

Pengungkapan itu terjadi pada Jumat siang tanggal 20 Agustus 2021 lalu.  saat itu, petugas mengamankan pelaku berinisial D (46). Ia merupakan warga Sibolga dan FN (54) yang merupakn warga Ujung Gading, Pasaman Barat.

Pelaku diamankan bersama dengan barang bukti berupa  satu set tulang belulang Harimau sumatera. Jumlahnya cukup fantastik,  80 tulang. Mereka menyimpannya di dalam sebuah tas. Tidak hanya tulang belulang itu sita, tapi juga  satu unit sepeda motor yang digunakan pelaku beraksi.

Setelah penangkapan, kemudian dilakukan  pendalaman. hasilnya diketahui jika pelaku akan menjual satu set tulang tersebut.

Bila penjualan tulang belulang itu berhasil, maka dua bagian kulit dari harimau sumatera akan menjadi bagian selanjutnya yang akan dijual.

Para pelaku ini mengaku bahwa barang tersebut telah berada di tangan pelaku sudah selama hampir empat bulan lamanya. Mereka kemudian akan menjualnya dengan harga yang telah disepakati.

Sayangnya ketika petugas melakukan “penggerebeka” ke tempat pelaku menyimpan kulit harimau yang dimaksud. Teman pelaku yang menyimpan kulit harimau tersebut melarikan diri, sehingga lolos dari sergapan petugas.

KLIK INI:  Burung Madu Sriganti, Si Arsitek Mungil yang Penting bagi Ekosistem
Pendalaman kasus terus dilakukan

Kepala BKSDA Sumbar, Ardi Andono telah mengeluarkan perintah kepada Tim BKSDA agar melakukan pendalaman terkait asal usul barang bukti yang diamankan.

Karena pada pertengahan bulan Juli 2021 lalu. BKSDA mengevakuasi seekor harimau dari lokasi perkebunan dan masih berusia muda.

“Tidak tertutup kemungkinan barang bukti ini memiliki keterkaitan kekerabatan dengan harimau yang dievakuasi sebelumnya. Tim gabungan masih akan terus mengembangkan keterlibatan para pelaku lainnya dalam jaringan perdagangan satwa dilindungi di Sumbar,” ujar Ardi.

Ardi juga mengatakan bahwa operasi ini berhasil berkat dukungan para pihak untuk menghentikan perdagangan Harimau sumatera baik hidup maupun bagian-bagian tubuhnya.

“Kami juga sangat berterima kasih kepada warga masyarakat yang sudah menginformasikan perdagangan satwa liar dilindungi kepada kami,” pungkas Ardi.

Saat ini kedua pelaku beserta  barang buktinya telah diamankan. Mereka juga telah dibawa ke Polres Pasaman Barat di Simpang Ampek.

Keduanya akan diperiksa lebih lanjut. Meski begitu kedua pelaku tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka.

Mereka pun telah ditahan oleh oleh penyidik di Polres Pasaman Barat. Pelaku disangka melanggar Pasal 21 ayat 2 huruf d Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya.

Sanksi yang menanti keduanya adalah  ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah.

KLIK INI:  Benarkah Pengelolaan Sumber Daya Alam Papua Sudah Menjamin Hak Orang Papua?