Destinasi Pepohonan

Aku telah lupa cara bahagia. Sejak tiga bulan tiga belas hari belakangan ini. Semua bermula saat aku tak bisa kembali ke kota. Aku meninggalkan kota sejak 18 Maret. Aku benar-benar terasing dari bauny...

Destinasi Pepohonan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Aku telah lupa cara bahagia. Sejak tiga bulan tiga belas hari belakangan ini. Semua bermula saat aku tak bisa kembali ke kota. Aku meninggalkan kota sejak 18 Maret. Aku benar-benar terasing dari baunya.

Di tanggal 18 itu, aku ke kampung orang tuaku di Selatan. Membawa baju hanya tiga lembar, dua lembar celana jeans. Dan tiga lembar celana dalam.

Selain laptop, charger gawai dan buku Murakami, hanya itulah isi tasku. Rencana awal hanyalah liburan satu minggu. Karena benar-benar disesaki rindu akan masakan ibu.

Aku rindu sayur masakan ibu. Sayur-sayuran itu ditanamnya di kebun belakang rumah tanpa pupuk, benar-benar organik. Di kota, tenggorokanku setiap hari dijenguki makanan cepat saji dan gorengan yang direnangkan di atas minyak jelantah yang telah menghitam malam.

Sebenarnya, setiap tiga bulan sekali aku selalu pulang ke Selatan. Menikmati ricik air di depan rumah. Mendaras ribang di mata ibu dan ayah.

Namun ketika pulang kampung, paling lama hanya seminggu. Panggilan kota selalu datang menusuk-nusuk. Percayalah rindu selalu menghadirkan beragam kebrengsekan.

Saat di kota, aku akan rindu suasana sejuk kampung, dan saat di kampung aku akan digerimisi rindu perihal kota dengan segala keruwetannya.

Kali ini, dengan segala kesabaran yang tumbuh biak di hati. Aku mencoba bertahan hingga tiga di kampung—tempat ari-ariku menyatu dengan tanah. Sialnya, waktu serasa bergerak siput. Siang  teras panjang membentang, dan malam seolah enggan diakhiri pagi.

Seminggu pertama, aku telah ingin membenamkan diri ke kota. Namun, mobil satu-satunya yang biasa ke kota tak pernah berangkat. Sopirnya takut dimusuhi orang sekampung. Sebab kota di anggap sarang penyakit.

Lalu suatu hari, di bulan ketiga lewat tiga belas hari, sebuah pesan masuk ke Whatsappku. Pesan yang menggetarkan lutut dan mempalpitasi jantungku.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2