Destinasi Pepohonan

Aku telah lupa cara bahagia. Sejak tiga bulan tiga belas hari belakangan ini. Semua bermula saat aku tak bisa kembali ke kota. Aku meninggalkan kota sejak 18 Maret. Aku benar-benar terasing dari bauny...

Destinasi Pepohonan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

“Rumahmu terbakar,” pesan dari Maci’—tetanggaku di kota menjelaskan foto yang dikirimnya.

Perihal foto

Foto yang dikirim Maci itu menampakkan rumah yang kutinggali di kota di kepung asap. Aku bergegas saja ke kota. Mengabiakan penyakit yang ditakutkan orang.

“Pergilah, hati-hati di jalan!” kata Ibu mengiringi langkahku keluar rumah. Aku menghidupkan motor Revo warna merah darah—motor yang telah lama tak melihat kota itu—terpaksa kukendarai.

Sejujurnya, bukan persoalan rumahnya yang kutakutkan diludesi api, tapi pohon mangga di depan rumah. Pohon yang telah jadi pengepul asap dapurku selama ini. Juga tentu saja fotomu di ruang tamu dan buku-buku.

Aku selalu menyukai foto itu, kamu bergaun biru langit. Foto itu diambil saat kamu menanam pohon mangrove bersama seorang mahasiswa Jepang yang cantik.

Kamu tak pernah ingin memberitahuku nama perempuan Jepang itu—mungkin kamu taku aku jatuh cinta padanya.

“Bagaimana jika kakek dari kakeknya gadis itu pernah datang menjajah bangsa kita?” tanyaku.

“Itu masa lalu,” jawabmu ringan. “tak ada yang akan hidup di masa lalu,” tegasmu. Aku tak suka berdebat. Kupilih bungkam saja.

Sejak aku tersekap kampung halaman, kita tak pernah lagi bertemu. Dan pesan yang menerabas WAku jelang siang di hari Senini itu. Akan membuka kembali pintu pertemuan kita yang ditutup rapat pandemi.

Akan bertemu denganmu memompa gairah lebih menderas untuk ke kota—meranggaskan semua ketakutan yang telah bertumbuh kokoh.

Pertemuan itu,  akan kembali membuka keran kebersamaan dalam balutan cinta untuk menjagai pohon mangga di depan rumahku.

Maka sore di hari Senin, saat aku sampai di rumah, yang pagarnya telah koyak itu. Karena diterobos warga yang ingin memadamkan api. Aku kaget—rumah terlihat baik-baik saja.

Melerai rasa gerah

Di halaman rumah, daun mangga berserakan. Aku mengumpulkannya sebelum masuk ke rumah untuk menatapi fotomu dan memeriksa inci demi inci isi rumah.

Aku pikir tak mungkin ada daun kering lagi yang tersisa. Pasti orang kota datang mengambilnya. Di kota ini, hanya tersisa tujuh batang pohon saja.

Ketujuh pohon itu, dua pohon sawo, satu trembessi, satu pohon asam, satu pohon beringin, dan sebatang pohon lagi yang tak pernah kutahu namanya. Dan satunya lagi adalah pohon mangga yang tumbuh tepat di depan rumah.

Saking langkanya pohon di kota ini, maka para pemiliknya, termasuk aku memanfaatkannya sebagai destinasi wisata. Namanya destinasi wisata pepohonan.

Rasa gerah tak bisa dileraikan dari suasana kota. Orang rindu menikmati naungan pohon. Menikmati kopi dan segudang kisah-kisah pinggiran di bawahnya. Maka setiap hari orang akan datang sekadar menikmati sensasi berteduh di bawah pohon.

Warga kota biasanya hanya bernaung dari atap gedung, bernaung di bawa pohon adalah hal langka. Tak ada lagi  pohon tumbuh di kota ini selain ketujuh pohon itu.

Saat musim buah, banyak berdatang sekadar melihat buahnya dan berselfie. Banyak yang kaget melihat wujud buah mangga.

Namun, karena pandemi aku menutup ladang uangku itu. Pun kota sedang diliburkan oleh pemerintah. Tak ada warga leluasa berkeliaran di luar rumah—apalagi berkumpul.

Memetik untuk

Daun kering yang kukumpulkan itu, aku foto lalu upload ke media sosial. Lima peneliti tumbuhan menghubungiku. Mereka hendak membeli 250 lembar daun mangga kering sebagai bahan penelitiannya.

Aku kegirangan dan menghubungimu

“Cepat ke sini!” kataku dalam pesan WA

“Tunggu, aku ke situ,” balasmu melalui pesan WA.

Di luar pagar, orang berkerumun ingin menikmati sensasi bernaung di bawah pohon mangga. Aku tak membuka pagar. Aku sedang menunggu datangmu, kita akan buka bersama destinasi pohon ini. Lagi.

Bersambung...

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2