Desa Samaenre Mendulang Rupiah dan Merawat Bumi dengan Jamur

Klikhijau.com - Menjelang siang saya telah tiba di Desa Samaenre, Mallawa, Maros. Kala itu awal Desember 2019. Hujan masih malu-malu bertandang. Masih enggan merintikkan bulir-bulirnya. Sayup-sayup...

Desa Samaenre Mendulang Rupiah dan Merawat Bumi dengan Jamur
Bacakan Artikel

"Setelah sebulan akan tampak jamur yang berhasil tumbuh dan jamur yang gagal," jelas Hapsah.
Baglog yang memiliki jamur sehat akan berwarna putih. Berbeda dengan baglog yang berwarna hitam, berarti jamurnya tak tumbuh. Gagal.

Dipanen jelang dua bulan

Setelah sebulan penutup baglog berupa koran dan cincin dari potongan pipa mereka buka agar jamur bisa tumbuh ke luar.

[irp]

"Setiap baglog bisa kita panen selama hampir dua bulan. Setiap setelah panen, ujung baglog kita potong untuk media jamur selanjutnya. Terus berlanjut sampai tersisa beberapa centimeter saja," ujar Hapsah, yang juga adalah istri Ismail.

Karena pembuatan baglog tidak bersamaan sehingga hampir setiap hari petani jamur bisa panen. Ada saja jamur yang menyeruak dari baglog.

Hasil panen bagi petani tidak sama. Tergantung banyaknya baglog di kumbung jamur mereka. Petani jamur desa ini tiap hari bisa memanen 10 s.d 30 kg per hari dari 9 petani jamur.

"Saya panen sekitar 4-6 kg per hari," ujar Hapsah.
"Musim juga mempengaruhi jumlah panen. Saat musim penghujan jamur tumbuh dengan subur. Berbeda saat musim kemarau, panen hanya sedikit," terang Ismail, perintis budidaya jamur di Samaenre.

Untuk meningkatkan produktivitas saat kemarau. Para petani lebih sering menyemprotkan air pada baglog. Dalam sehari bisa sampai empat kali semprot.

Awal budidaya jamur Mallawa

Budidaya jamur di Resor Mallawa bermula ketika seorang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkunjung ke Desa Samaenre. Melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung kala itu. Pada suatu waktu salah seorang peneliti LIPI memerhatikan serbuk gergaji yang menggunung di depan rumah Ismail. Serbuk gergaji dari sawmil milik orang tuanya.

โ€œItu serbuk gergaji ya? Kenapa tidak memanfaatkan serbuknya?โ€ Amin bertanya.
โ€œBetul Pak, untuk apa serbuknya?โ€ ujar Ismail.
โ€œKalau di tempat saya, serbuknya sangat berguna untuk budidaya jamur,โ€ jawab Amin. โ€œSepulang ke Bogor nanti saya akan kirimkan buku dan beberapa bibitnya ya.. ,โ€ tambanya.
โ€œBaik Pak,โ€ jawab Ismail singkat waktu itu.

[irp]

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: