Kisah Sukses Petani Jamur Mallawa dan Lelaki di Baliknya

Klikhijau.com - Sejak pindah tugas dari Taman Nasional Wakatobi, Andi Subhan dengan tekun bertugas di Resor Mallawa, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Subhan tertarik mendampingi masyarakat d...

Kisah Sukses Petani Jamur Mallawa dan Lelaki di Baliknya
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Sejak pindah tugas dari Taman Nasional Wakatobi, Andi Subhan dengan tekun bertugas di Resor Mallawa, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Subhan tertarik mendampingi masyarakat di desa penyangga taman nasional ini termasuk mencari solusi setiap kendala yang dihadapi petani jamur. Salah satunya adalah pembuatan bibit F0 yang belum bisa dihasilkan sendiri oleh petani. Hal tersebut merupakan kendala utama yang dihadapi petani. Petani jamur biasanya memesan bibit di Desa Samangki, Simbang, Maros. Namun tak begitu lancar.

โ€œKami harus menunggu satu sampai tiga bulan setelah memesan bibit,โ€ ujar Ismail.

Kedatangan Subhan di resor ini seolah menjadi angin segar bagi para petani. Dia pun mulai mempelajari seluk beluk jamur. Ia berkonsultasi dengan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha untuk mencari solusi yang dihadapi masyarakat di desa binaaannya.

[irp]

Kayuh pun bersambut, rekomendasi konsultasi: menyarankan studi banding ke petani jamur yang berada di Nusa Tenggara Barat. Sebuah kelompok tani jamur yang bermitra dengan BPDAS Dodokan Moyosari di Mataram.

Pertengahan Agustus 2017, Subhan ditemani 2 petani jamur Desa Samaenre: Ismail dan Andi Firdaus, terbang ke Mataram untuk belajar membuat bibit F0. Selama tiga hari mereka belajar serius membuat bibit F0 di sana.

Sepulang dari Mataram, Subhan dengan suka rela menggelar pelatihan ringkas membuat bibit kepada para petani di Desa Samaenre. Mengajarkan ke segenap warga yang tertarik membudidayakan jamur di desa itu. Warga sangat antusias. Mereka berbondongโ€“bondong datang ke pondok kerja Resor Mallawa, mengikuti secara seksama langkahโ€“langkah yang diajarkan Subhan, Isail, dan Firdaus.

Menerapkan prinsip steril

Alhasil setelah belajar dan bisa membuat bibit sendiri, gairah bertani jamur kembali tumbuh di desa ini. Masyarakat pun mulai membuat rakโ€“rak dan membuat baklop sebagai media tanam.

Masyarakat Desa Samaenre memanfaatkan kolong rumah panggung mereka sebagai tempat budidaya jamur. Menutupnya dengan papan untuk menjaga kelembaban dan sterilnya jamur yang dibudidayakan.

Suatu waktu saat mengunjungi Samaenre. Ismail menunjukkan ke saya cara ia membuat bibit jamur. Ia mengenalkan peralatan yang digunakannya: pinset, pisau, lampu api bunsen. Saat mulai beraksi tak lupa ia mengenakan sarung tangan karet dan masker. Kamarnya ia sulap menjadi ruangan tertutup layaknya laboratorium. Ismail melakukan kultur jaringan dengan alat dan ruangan seadanya.

Prinsip steril dan suhu ideal ia terapkan. Tak hanya itu semangat belajar dan pantang menyerah membuatnya ia berhasil membuat sendiri bibit F0.

[irp]

โ€œUntuk bahannya. Baiknya menggunakan indukan jamur dari jamur yang tumbuh perdana dari baglog. Kita bisa gunakan bagian daun atau batangnya sebagai anakan,โ€ terang Ismail saat hendak memulai kultur jaringannya. Ia kemudian menujukkan caranya: memulai dari mensterilkan alat, memotong indukan, menyiapkan media tumbuh hingga membenamkan bagian jamur di media tumbuh.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: