Demmatande, Pejuang Pemberani dari Kampung Paladan Mamasa

Kali pertama masuk ke nusantara sekira abad ke-16, utusan Belanda datang laksana tamu asing. Utusan Belanda tentu tercengan dengan ibu pertiwi yang subur loh jinawi dengan rempah-rempah melimpah. Apa...

Demmatande, Pejuang Pemberani dari Kampung Paladan Mamasa
Bacakan Artikel

Kali pertama masuk ke nusantara sekira abad ke-16, utusan Belanda datang laksana tamu asing. Utusan Belanda tentu tercengan dengan ibu pertiwi yang subur loh jinawi dengan rempah-rempah melimpah. Apa yang dilihatnya secara empirik dengan mata telanjang boleh jadi melampaui espektasi awal dari sumber-sumber data yang dikumpulkan tentang nusantara.

Mata siapa yang tak membelalak dengan kelimpahan sumber daya dan keelokan negeri nusantara. Namun, Belanda cukup cerdik, mereka tidak langsung melancarkan agresi dan dominasinya. Penjajahan bangsa Belanda dijalankan dengan proses politik yang lambat, bertahap dan melintasi jendela waktu yang lama sebelum akhirnya dapat menguasai batas-batas wilayah nusantara.

Pada abad ke-18, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) semakin mengukuhkan dominasi ekonomi dan politik di pulau Jawa terutama pasca runtuhnya kesultanan Mataram. Di abad inipula, ekspansi kekuasaan Belanda semakin meluas tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga di luar Jawa. Apakah pribumi tinggal diam? Tidak! Di beberapa wilayah, perlawanan melawan Belanda gencar dilakukan.

Pada tahun 1900-an, ekspansi Belanda sudah benar-benar mengakar dan merambah hingga sejumlah wilayah strategis di Pulau Sulawesi. Praktik kerja paksa dan penyerobotan lahan meluas hingga ke kampung-kampung. Jejak sejarah ekspansi kolonial Belanda mendapati dua tipologi pribumi: ada kelompok atau individu yang berdamai bahkan berkoloni dengan penjajah—ada pula kelompok dan individu yang tegas dan berani menyatakan perlawanan terhadap tirani penjajah.

Jejak historis Marsose, pasukan elit anti-gerilya bentukan Belanda mengafirmasi hal itu. Pasukan elit super sadis Marsose, sebagian besar personilnya adalah pribumi terlatih yang memilih bekerja untuk penjajah. Selama masa penjajahan, kolonial Belanda memang sangat cerdik, baik dalam hal strategi perang, politik devide et impera, hingga kemampuan adaptasi perang darat dengan kondisi alam nusantara yang berat.

Pada tahun 1907, tentara Belanda mulai masuk ke wilayah Mamasa dan dalam waktu yang tidak lama, tepatnya pada 1909 Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah Mamasa. Rakyat di kampung-kampung tidak tinggal diam. Sejatinya mereka melakukan perlawanan keras, meski sporadis karena persenjataan yang tidak seimbang.

Di beberapa momen harus mengakui kekalahan dan terpaksa bergerilya dari hutan ke hutan. Tercatat ada banyak korban jiwa selama periode peperangan darat di Mamasa sejak Belanda melancarkan agresinya. Ini menunjukkan dua hal; pertama, semangat perlawanan dan patriotisme rakyat untuk melawan penjajah; kedua, adanya konsolidasi lintas pejuang untuk bersatupadu melawan koloni Belanda.

Belanda menancapkan hegemoni kekuasaannya di wilayah  Mamasa ditandai dengan keberhasilannya membuat maklumat penaklukan yang bunyinya sebagai berikut: (1) raja-raja yang ditaklukkan mengakui tunduk kepada pemerintah Belanda; (2) mengakui bahwa daerah kerajaannya merupakan daerah wilayah Hindia Belanda; (3) tidak akan berhubungan dengan pemerintah asing tanpa seizin pemerintah Belanda.[2]

Demmatande, pemberani dari kampung Paladan

Hegemoni Belanda berujung pada penindasan, kerja paksa, perampasan tanah hingga penarikan pajak tinggi pada kaum pribumi. Daeng Matande atau Demmatande bersama rakyatnya di kampung Paladan sedang hidup baik-baik saja ketika agresi Belanda mendekati wilayah Pitu Ulunna Salu. Sebagai kepala kampung, Demmatande sudah tentu memiliki kualitas leaderhip yang kuat, ia pemimpin yang bertanggungjawab dengan kehidupan warganya. Namun, kedatangan Belanda mendekati Pitu Ulunna Salu mengubah segalanya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2