Dari ‘Sang Pemimpi’ Kita Tahu, Ujung Pertambangan adalah Sengsara

Klikhijau.com –  Sang Pemimpi, telah menjadi salah satu novel yang menggugah kesadaran kita. Termasuk dalam hal pendidikan dan kesadaran lingkungan. Novel fenomana itu merupakan  novel yang ditulis...

Dari ‘Sang Pemimpi’ Kita Tahu, Ujung Pertambangan adalah Sengsara
Bacakan Artikel

Klikhijau.com –  Sang Pemimpi, telah menjadi salah satu novel yang menggugah kesadaran kita. Termasuk dalam hal pendidikan dan kesadaran lingkungan.

Novel fenomana itu merupakan  novel yang ditulis oleh Andrea Hirata sebagai pelengkap dari tetralogi Laskar Pelangi.

Sang pemimpi membawa banyak hal yang tak akan usai dibincangkan. Kehadirannya  mampu mewarnai jagad sastra indonesia, bahkan dunia.

Novel itu mengambil setting di Belitong atau Belitung. Sebuah daerah yang dilimpahi kekayaan alam berupa timah. Di sana, di Belitong yang merupakan sebuah pulau yang berada di lepas pantai timur Sumatra, yang  diapit oleh Selat Karimata dan Gaspar merupakan surga bagi dunia  pertimahan.

[irp]

Bahkan Raffles pernah mengemukakan kepada Kepada Gubernur Jenderal Lord Minto [Penguasa Inggris di Asia] pada tahun 1812 bahwa potensi Pulau Bangka dan Belitong adalah tempat yang penuhi timah terkaya di dunia. Tidak ada yang menandinginya. Seluruh pulau akan jadi tambang timah yang besar.

Apa yang dikatakan Raffles memang terbukti.  Pulau Bangka dan Belitung menjadi kiblat pertambangan timah di Indonesia.

Telah ada sejak zaman Sriwijaya

Pemanfaatan timah di daerah tersebut, konon telah berangsung sangat lama, bahkan sejak  zaman Kerajaan Sriwijaya. Namun, pemanfaatannya tidak semassif saat masa  kolonial Inggris dan Belanda.

Karena pada masa kolonial eksplorasi tambang timah di Pulau Bangka dan Belitung mulai dilakukan besar-besaran hingga saat ini.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: