Dari Pesisir Lassang-Lassang: Pesta Rakyat Menguatkan Solidaritas Perempuan Nelayan di Jeneponto

Klikhijau.com - Pesta Rakyat Pesisir Jeneponto yang didorong oleh Bina Desa bersama Komunitas Perempuan Nelayan Sipitangarri (KPNS) mendorong terjadinya konsolidasi-advokasi antarwarga pesisir Jenepon...

Dari Pesisir Lassang-Lassang: Pesta Rakyat Menguatkan Solidaritas Perempuan Nelayan di Jeneponto
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Pesta Rakyat Pesisir Jeneponto yang didorong oleh Bina Desa bersama Komunitas Perempuan Nelayan Sipitangarri (KPNS) mendorong terjadinya konsolidasi-advokasi antarwarga pesisir Jeneponto. Melalui kegiatan bertajuk kampanye yang dilakukan secara langsung dan partisipatif dengan menyelenggarakan kegiatan yang berlangsung di Pesisir Lassang-Lassang, Desa Arungkeke yang menyuguhkan pemandangan langsung ke area pesisir tempat para Perempuan nelayan melakukan aktivitasnya. Sabtu, 13 September 2025.

[irp]

Kegiatan tersebut, diharapkan memaksimalkan solidaritas yang kuat di antara berbagai lapisan masyarakat sehingga dapat menjadi modal sosial untuk memperjuangkan kepentingan perempuan pesisir.

Kepala Desa Arungkeke, H. Muh. Kasim, S.E yang membuka kegiatan secara resmi disaksikan perwakilan puluhan komunitas dari berbagai desa dan kabupaten mengaku bangga dengan hadirnya kegiatan tersebut. Pemerintah desa, kecamatan, termasuk Kabupaten Jeneponto, yakin dan percaya ini sangat dinanti-nanti kegiatan-kegiatan seperti ini. Terlebih hal ini searah dengan motto “Jeneponto Bahagia”.

“Kegiatan ini tentu sebagai wujud pelestarian budaya pesisir, budaya bahari, juga tentu sebagai pemantik usaha ekonomi rakyat, khususnya UMKM olahan dari hasil laut, yang diinisiasi oleh KPNS,” ujarnya.

Iapun merasa kagum karena kegiatan ini menghadirkan para tamu dari luar daerah, terlebih dengan kehadiran tim Bina Desa dari Jakarta, berbagai komunitas yang datang dari Makassar, Gowa, Bulukumba, Bantaeng.

[caption id="attachment_34123" align="alignnone" width="562"] Tamu undangan menyaksikan Pembukaan kegiatan Pesta Rakyat Pesisir Jeneponto di Dusun Lassang-Lassang, Arungkeke. (Foto: Ist)[/caption]

“Sekiranya ini bisa berlanjut dan mungkin ada di desa kami, saya sangat menantikan itu dan mengapresiasi dan mendukung dalam bentuk apapun yang saya bisa, saya pasti ikut. Masyarakat tentu butuh kegiatan-kegiatan yang bisa membangkitkan motivasi atau edukasi buat masyarakat supaya bisa mereka ikut menghasilkan sesuatu hal yang bermakna dari hasil karya laut,” sambungnya.

[irp]

Dirinya semakin yakin dengan kegiatan yang diinisisi komunitas Perempuan yang melibatkan pemerintah akan lebih mampu berbuat untuk kampung, karena jika hanya pemerintah saja itu tidak bisa maksimal. Menanggapi perihal krisis iklim Muh Kasim menyebut bahwa kegiatan ini tentu telah menjadi mediator untuk untuk bisa melakukan sesuatu hal yang bermanfaat bagi daerah-daerah pesisir.

Sosok Perempuan yang menginspirasi, Kasmawati sebagai ketua KPNS, menerangkan bahwa kegiatan ini sebagai upaya untuk menguatkan solidaritas, kolaborasi multipihak untuk secara bersama menjaga wilayah pesisir yang diintai oleh krisis iklim dan juga tentu oleh korporasi dan industry yang acap kali mengabaikan keselamatan lingkungan.

“Kami menghadirkan lintas komunitas baik yang ada di Jeneponto maupun dari luar untuk saling menguatkan, karena kami sebagai nelayan Perempuan masih belum dianggap padahal secara hitungan jam kerja apalagi sebagai pembudidaya rumput laut itu lebih banyak mengambil jam kerja, hal ini juga yang menjadi hal penting yang kami perjuangkan, bagaimana agar hak hak kami bisa diakomodir,” tegasnya.

Lebih jauh, Kasma, sapaan akrabnya, mengungkap fakta yang menjadi perhatian khusus, bahwa pesisir Jeneponto dibayang-bayangi oleh dampak serius yang dapat ditimbulkan oleh dua industri ekstraktif, yakni smelter nikel Huadi di Bantaeng dan PLTU Jeneponto.

[irp]

“Hal ini tentu berdampak pada wilayah pesisir kita, bahkan saat ini sangat terasa ada perubahan, yang dulunya rumput laut nelayan itu secara kuantitas banyak dan secara kualitas juga bagus, kemudian ada beberapa ikan juga tidak bisa lagi kita lihat di meja makan, artinya apa, bahwa ada kemunduran dan tentu mengancam,” jelasanya.

Perusahaan tambak udang skala besar. Di Kecamatan Arungkeke, yakni PT Sinar Sukses Persada dan CV Harjo Anugerah Sejahtera yang mana keduanya sudah lebih dari 3 tahun berproduksi. Berdasarkan hasil riset tim Bina Desa kedua perusahaan tersebut berkontribusi atas terjadinya gagal panen rumput laut para nelayan.

“Sepandai apapun pelautnya dan secanggih apapun alat tanggapnya jika lautnya rusak sama saja bohong,” tegas Kasma dengan kalimat yang penuh kekuatan makna.

[irp]