Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Dari Mana ke Mana?

Dari Mana ke Mana?   dari mana sampah-sampah itu berasal? pertanyaan konyol itu terusa saja terulang di kepala mendobrak-dobrak ke mana ia akan pergi? pertanyaan pertama itu, di susul p...

Oleh Idris Makkatutu 25 Jun 2022 08:18 3 menit baca

Dari Mana ke Mana?

  dari mana sampah-sampah itu berasal? pertanyaan konyol itu terusa saja terulang di kepala mendobrak-dobrak ke mana ia akan pergi? pertanyaan pertama itu, di susul pertanyaan ke dua aku mondar-mandir, naik turun tangga memikirkan jawabannya tapi, lari kosong ketika kujawab, dari manusia jawaban itu mencak-mencak menendang kepalaku hingga pening saat kujawab dari alam jawaban itu salto-salto di kepalaku membenturkannya ke tiang tengah rumah namun, ketika kujawab dari kerakusan jawaban itu menyanyikan lagu nina bobo dengan musik dari degup jantungku lalu ke mana ia pergi? kujawab, ke laut jawaban itu bergermuruh badai merontah-rontah beringas aku diam, berpikir keras jawabannya lalu kutemukan, pergi ke sungai ke alam, ke, ke ke... jawaban itu berteriak-teriak membuat kutu-kutu di kepalaku berlompatan ke dalam mata namun, ketika kujawab ke dalam diri sendiri kepalaku seperti baru keramas lalu diolesi minyak kemiri licin dan harum Kindang, 25 Juni 2022 [irp] -

Panen Lebih Awal

  panen jagung lebih awal seminggu dari seharusnya, katamu kenapa? tanyaku karena hujan lupa meniriskan dirinya, jawabmu tak ada lagi pertanyaan aku menyeruput kopiku kau memangkas batang jagung aku tak ingin melihat hujan curah dari matamu yang khawatir sungai depan rumahmu meluap merampas jagung kuning merampas pula pembeli kuotamu panen kali ini kau siasati tak mengikuti masa panen di masa lampau hujan dan banjir tak bisa lagi dikira bisa datang, bahkan saat kau asyik menonton goyangan tiktok pohon-pohon di hulu sepertinya telah tandas berganti jagung berganti cabai dan pedisnya sampai ke halaman rumah ke mata, lalu ke kuota aku tak lagi bertanya kenapa harus panen lebih awal hujan tak pernah lagi berhenti meneror membawa banjir bisa datang merampas jagung dan napas para petani sewaktu-waktu Kindang, 25 Juni 2022 [irp] -

Berumah di Mata

  di kotamu yang riuh suara klakson aku berjalan ke matamu membangun rumah berarsitektur bugis di sana rumah dari pohon yang di tanam leluhur di kebun kebun yang kini berubah ladang jagung ladang yang bisa diterobos sinar matahari tanpa penghalang ladang yang lupa cara menyimpan air ketika hujan kau acap mengeluh tentang panas saat hujan alpa bertandang kau yang lihai berkesah tentang banjir ketika hujan tak reda-reda kau selalu merindu healing menyentuh lumut menghijau memunguti daun kering menyimak cericit burung kau terus saja menanam jagung, menabung demi berkunjung ke alam hijau demi lupa di kotamu tak ada lagi pepohonan dan aku tetap saja berumah di matamu dengan kayu dari pohon yang kurampas dari kebun leluhur penuh kerakusan Kindang, 24 Juni 2022 [irp]
Topik terkait
#puisi #sampah #puisi lingkungan #puisi dan ekologis #sastra dan lingkungan #puisi berdiksi alam