Pohon Mindi, Tanaman Agroforestri dengan Beragam Manfaat

oleh -22 kali dilihat
Pohon Mindi, Tanaman Agroforestri dengan Beragam Manfaat
Pohon mindi-foto/Ist

Klikhijau.com – Pohon mindi yang  menyandang nama ilmiah Melia azedarach. Memiliki daya potensial untuk dikembangkan. Ia merupakan jenis kayu yang cepat tumbuh.

Tak hanya cepat tumbuh, tapi juga cepat dipanen.  Pada usia lima tahun pohon ini sudah dapat dipanen. Setelah empat tahun kemudian trubusan dari bekas tebangannya dapat dipanen lagi.

Pengembangan pohon jenis ini  cocok diterapkan di negara yang menganut  agroforestri, yakni salah satu teknik pengelolaan lahan yang menggabungkan tanaman pertanian dan kehutanan. Indonesia adalah salah satu negara yang menerapkan agroforestri.

Pohon mindi kerap pula dianggap sebagai pohon mimba. Padahal keduanya berbeda, pohon mindi memiliki daun dengan ukuran yang lebih kecil. Pada  ujung daun tunggal pada ujungnya.

KLIK INI:  4 Jenis Sengon yang Tumbuh di Indonesia yang Perlu Diketahui

Sementara pohon mimba  atau Azadarachta indica, daunnya berukuran lebih besar, tepian daunnya lebih bergerigi  dan berpasangan.

Meski begitu mindi dan mimba memiliki kesamaaan, yakni sebagai penghasil kayu yang baik. Jadi, mindi tak hanya baik sebagai tanaman peneduh jalan, tapi kayunya juga dapat dimanfaatkan sebagai  bahan bangunan dan juga tanaman obat.

Morfologi pohon mindi

Pohon mindi memiliki ciri khas, yakni bercabang banyak dengan kulit batang  berwarna coklat tua. Ia memiliki batangnya silindris, dan tak berbanir.

Kulit batang pohon dari ordo Sapindales ini berwarna abu-abu coklat, beralur membentuk garis-garis dan bersisik.

Ia memiliki daun majemuk menyirip ganda dan tumbuh berseling. Daunnya memiliki panjang 20 hingga 80 cm.

Sedangkan anak daunnya berbentuk bulat telur bergerigi. Warnanya  hijau tua pada bagian permukaan atasnya.

Pohon ini memiliki bunga majemuk, dalam malai. Panjangnya 10 hingga 20 cm, yang keluar dari ketiak daun.

Malainya memiliki panjang 10 hingga 22 cm yang berkelamin dua, yakni bunga betina dan jantan  yang terletak pada pohon yang sama.

KLIK INI:  Apakah Pohon Bisa Menangis?

Pohon dari famili Meliaceae ini memiliki daun mahkota berjumlah 5 dengan panjangnya 1 cm, berwarna ungu pucat, dan memiliki bau yang harum. Buahnya ketika masak berwarna coklat kekuningan. Buahnya berjenis buah batu.

Tumbuhan dari genus Melia ini  dapat tumbuh setinggi 10 hingga 20 meter. Selain dibudidayakan, mindi juga banyak tumbuh  liar di wilayah dekat pantai. Ia juga dapat ditemukan di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut.

Penyebaran dan kandungan

Dilansir dari news.unair penyebaran pohon ini berasal  dari Asia, lalu menyebar luas hingga ke benua-benua lainnya. Dalam perkembangannya dikenal tiga tipe yaitu tipe China, India,  dan liar.

Mindi di Indonesia banyak dikelompokkan sebagai tipe liar dengan ciri penampakan pohon yang tinggi  kurang 45 meter. Sementara tipe India dan China sebagai pohon yang kecil.

Secara fitokimia mindi mengandung limonoid, flavonoid, terpenoid, steroid, asam-asam organik, alkaloid, antrakuinon, saponins, dan  tannin.

KLIK INI:  30 Ribu Pohon di 1000 Titik Menandai Hari Jadi Kota Makassar ke-414

Buah, kulit batang, daun, biji mindi menunjukkan menghambat sampai membunuh sel kanker usus, kanker payudara,  kanker paru,  kanker ginjal, dan serviks hepatoma, kanker darah,  kanker mulut, prostat, dan masih beberapa lainnya lagi.

Kulit batang dan kulit akarnya mengandung toosendanin, kaemferol, margoside, resin, tannin dan trirterpene kulinone sehingga dapat digunakan menyembuhkan hipertensi dan cacingan. Hanya saja,  kulit akar pohon ini bersifat beracun yang bisa merangsang muntah.

Sedangkan kayunya, pada industri kerajinan meubel tumbuhan ini digunakan sebagai salah satu pengganti kayu jati pada saat pasokannya berkurang, khususnya di Jepara.

Klasifikasi ilmiah
  • Kerajaan: Plantae
  • Divisi:  Magnoliophyta
  • Kelas: Magnoliopsida
  • Ordo: Sapindales
  • Famili: Meliaceae
  • Genus: Melia
  • Spesies: M. azedarach
KLIK INI:  Bermula dari Cerita Perihal Pohon, Pegiat Literasi Ini Memantik Daya Kritis Anak