Belajar Kisah Heroik Perempuan dari Pegunungan Kendeng

Klikhijau.com - Bulan November 2018, saya mengikuti kegiatan Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK) angkatan 2 Maarif Institute di Bogor Jawa Barat. Salah satu temanya adalah tentang kebudayaan yakn...

Belajar Kisah Heroik  Perempuan dari Pegunungan Kendeng
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Disamping itu, ibu-ibu Kendeng juga membawa lessung sebagai simbol bahwa nasi sebelum sampai ke piring, padi itu mulanya adalah gabah dan gabah bisa berubah menjadi beras karena ditumbuk menggunakan lessung. Lessung adalah simbol eksistensi pangan warga Sedulur Sikep.

Tanpa lessung bagaimana warga Sedulur Sikep bisa makan dan bertahan hidup. Jikalau tanah sawah berubah menjadi pabrik, dengan cara apa lagi ibu-ibu Kendeng bisa menggunakan lessung untuk menumbuk padi. Pastinya lessung-lessung di setiap rumah akan mengganggur, dimakan rayap, dan akan menjadi museum pribadi pertanda kematian petani.



  • Aksi demo dengan cara meruwat president dan gubernur



 Ibu-ibu Kendeng lestari memasak makanan di tenda-tenda, kemudian memberikan makanan itu kepada prisedent Republik Indonesia bapak Joko Widodo dan kepada Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo sebagai bentuk ruwatan atau rokat atau selamatan kepada kedua bapak pemberi kebijakan tersebut.

Pemberian ruwatan makanan kepada kedua bapak ”besar” mengandung makna tersirat bahwa beliau-beliau makan dengan nasi, nasi berasal dari padi dan padi tumbuh di sawah, dan sawah yang menggarap adalah petani. Makna tersurat dalam ruwatan tersebut adalah bentuk doa selamatan kepada beliau-beliau agar merubah arah kebijakan ke arah perlindungan kepada ibu bumi.

Ketiga strategi budaya dalam perjuangan melawan kapitalisme dan kebijakan pemerintah yang menindas rakyat tersebut memberi makna pembelajaran bahwa bumi adalah sama dengan ibu kita. Ibu bumi harus dilindungi dari ancaman-ancaman yang merusaknya dan dirawat dengan penuh cinta tanpa ada ambisi untuk menaikkan pendapatan daerah dari produksi semen besar-besaran.

Penulis: Masthuriyah Sa’dan, Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusian Maarif Institut

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2